Jum'at, 04/03/2022 20:44 WIB
Kyiv, Jurnas.com - Tentara Rusia berhasil mengambil alih pembangkit listrik tenaga nuklir Ukraina, setelah aksi tembak menembak di pabrik Zaporizhzhia. Pejabat Ukraina menyalahkan Rusia atas serangan tersebut.
Dikutip dari BBC pada Jumat (4/3), pengawas nuklir PBB memastikan tingkat radiasi dan keamanan reaktor tidak terpengaruh.
Para pemimpin dunia mengecam serangan Rusia di pembangkit nuklir terbesar di Eropa tersebut karena membahayakan keselamatan seluruh benua. Sementara itu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh Rusia melakukan "teror nuklir".
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mendesak Moskow untuk menghentikan kegiatan militernya di sekitar lokasi. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan "serangan mengerikan" dari Rusia "harus segera dihentikan".
Uji Coba Rudal Jelajah, Kim Jong Un Saksikan dari Kapal Perusak
Inggris Rayu Ukraina Amankan Selat Hormuz dari Iran
India Kian Dekat Bisa Produksi Bahan Nuklir di dalam Negeri
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan serangan "sembrono" itu bisa "secara langsung mengancam keselamatan seluruh Eropa". Ketiga pemimpin berbicara dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melalui telepon.
Zelensky, sementara itu, mengatakan serangan itu bisa menyebabkan kehancuran yang setara dengan enam Chernobyl, lokasi bencana nuklir terburuk di dunia pada 1986.
"Jika ada ledakan, itu adalah akhir dari segalanya. Akhir dari Eropa," kata Zelensky.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia menyalahkan serangan itu pada sabotase Ukraina, menyebutnya sebagai "provokasi mengerikan" tanpa memberikan bukti.
Sebuah feed video dari pembangkit nuklir menunjukkan ledakan menerangi langit malam dan mengirimkan gumpalan asap.
Keyword : Rusia Ukraina Pembangkit Listrik Nuklir