Minggu, 13/02/2022 16:33 WIB
Canberra, Jurnas.com - Australia sedang mengevakuasi kedutaan besarnya di Kyiv karena situasi di perbatasan Rusia-Ukraina memburuk. Sementara itu, Perdana Menteri Scott Morrison meminta China tidak tinggal diam pada krisis tersebut.
Menteri Luar Negeri Marise Payne dalam sebuah pernyataan mengatakan, staf kedutaan Australia di Kyiv diarahkan ke kantor sementara di Lviv, sebuah kota di Ukraina barat, sekitar 70 km dari perbatasan dengan Polandia.
"Kami terus menyarankan warga Australia untuk segera meninggalkan Ukraina dengan cara komersial," kata Payne.
Morrison mengatakan situasinya di perbatasan kedua negara "mencapai tahap yang sangat berbahaya" dan menambahkan bahwa "tindakan sepihak otokratis Rusia untuk mengancam dan menggertak Ukraina adalah sesuatu yang sepenuhnya dan sama sekali tidak dapat diterima".
Zelensky Geram Trump Longgarkan Sanksi Minyak Rusia
Drone Ukraina Hantam Tiga Kapal Perang Rusia di Krime
Inggris Rayu Ukraina Amankan Selat Hormuz dari Iran
Morrison, yang pemerintahannya memiliki hubungan dingin dengan China, juga meminta Beijing untuk berbicara atas nama Ukraina, setelah China mengkritik pertemuan para menteri luar negeri Amerika Serikat (AS), Australia, Jepang dan India di Melbourne pekan lalu.
"Pemerintah China dengan senang hati mengkritik Australia tetapi tetap diam terhadap pasukan Rusia yang berkumpul di perbatasan Ukraina," kata Morrison dalam konferensi pers.
"Koalisi otokrasi yang kita lihat, berusaha untuk menggertak negara lain, bukanlah sesuatu yang Australia pernah ambil posisi ringan," sambungnya.
Hubungan antara Australia-China memburuk setelah Canberra melarang Huawei Technologies dari jaringan 5G pada 2018, memperketat undang-undang terhadap campur tangan politik asing, dan mendesak penyelidikan independen terhadap asal usul COVID-19.
Sumber: Reuters
Keyword : Scott MorrisonAustrliaUkrainaRusia