Senin, 10/01/2022 17:55 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengatakan, dalam menentukan calon pada Pemilu 2024, semua harus mengikuti mekanisme yang ada.
"Kita bukan partai yang bermain pada putaran terakhir, kita bukan partai yang menang Pemilu dengan cara serangan fajar, ilmu kilat H-1 atau H+2," kata Hasto dalam konferensi pers usai perayaan HUT PDI Perjuangan ke 49 yang dilakukan secara daring, Senin (10/1/2022).
"Kami adalah partai yang bergerak bersama rakyat dengan turun ke bawah sebagai senjata paling efektif dalam Pemilu seperti yang disampaikan dalam pidato Bu Mega tadi. Sehingga segala sesuatu ada tahapannya," lanjutnya.
Menurut Hasto, dengan adanya varian Covid-19 Omicron menjadi skala prioritas PDI Perjuangan terlebih dahulu.
Hasto Ungkap Momen Akrab Megawati-Prabowo di Istana: Seperti Teman Lama
Megawati Halalbihalal Bareng Dubes, Bahas Geopolitik hingga Isu Lingkungan
PDIP: Idul Fitri Momentum Perkuat Persaudaraan Nasional
"Kalau siapa yang mau jadi presiden, wakil presiden itu keyakinan PDI Perjuangan berdasarkan ideologi pancasila itu selalu ada campur tangan dari Tuhan. Tapi PDI Perjuangan terus mempersiapkan diri, menggembleng diri terus menerus," ungkap Hasto.
Dia juga menegaskan, semuanya itu berada di tangan Megawati. Jika sudah memutuskan, maka tidak ada yang berubah dan tak goyah.
"Karena sekali mengambil keputusan, ya itulah yang harus dijalankan. Sehingga urusan Pilpres kami tidak grusa grusu dengan calon. Karena semuanya ada tahapannya, " jelas Hasto.
"KPU saja belum terbentuk, KPU belum menetapkan kapan Pilpres itu. Tapi ketika KPU memutuskan dalam seminggu ini, kami sudah bersiap. Karena kami taat perundang-undangan, apalagi terhadap seorang presiddn itu ada hitung-hitungannya, ada kalkulasi politik, ada upaya membangun kerja sama dengan partai lain, ada dialog," sambungnya.
Selain itu, pihaknya juga ingin ada kesinambungan dengan Presiden Jokowi. Sehingga nanti Jokowi memberikan masukan kepada Ketua Umum PDIP Megawati agar arah ke depan pemerintahan ini senafas.
"Tidak bisa presiden ke depan punya orientasi yang berbeda memindahkan ibu kota di suatu tempat antah berantah, itu enggak bisa, harus senafas."
"Itulah yang dilakukan Ibu Mega dan sambil menunggu itu, partai terus melakukan langkah konsolidasi. jadi pemenangan ini bukan kerja orang per-orang, tapi kerja kolektif menyatu dengan rakyat," pungkasnya.