Populasi Capung Terancam Punah efek Pembangunan Masif

Jum'at, 10/12/2021 11:48 WIB

London, Jurnas.com - International Union for the Conservation of Nature`s (IUCN) Red List of Threatened Species menemukan, semakin berkurangnya rawa-rawa dan lahan pertanian efek pembangunan yang berlangsung massif, memicu penurunan populasi capung global.

Hilangnya lahan basah disebabkan oleh urbanisasi dan pertanian yang tidak berkelanjutan. Dan sekarang, 16 persen capung dunia terancam punah.

"Rawa dan lahan basah lainnya memberi kami layanan penting," kata Direktur Jenderal IUCN Dr Bruno Oberle dikutip dari BBC pada Jumat (10/12).

"Ekosistem ini menyimpan karbon, memberi kita air bersih dan makanan, melindungi kita dari banjir, serta menawarkan habitat bagi satu dari 10 spesies yang dikenal di dunia," sambung dia.

"Tapi ekosistem ini menghilang tiga kali lebih cepat daripada hutan."

Kepala Red List of Threatened Species, Craig Hilton-Taylor, mengatakan bahwa penilaian ilmiah terbaru menunjukkan dunia telah kehilangan 35 persen lahan basahnya antara tahun 1970 dan 2015.

"Tingkat kerugian itu tampaknya meningkat," katanya.

"Dan itu semua karena persepsi lahan basah sebagai lahan terlantar yang perlu direklamasi, padahal sebenarnya lahan itu sangat penting," lanjut dia.

"Kami berharap dengan memamerkan serangga cantik ini, dan menyoroti bahwa kami terancam kehilangan mereka, kami dapat [menyebarkan pesan] bahwa kami perlu berbuat lebih banyak untuk melindungi lahan basah dunia."

Dengan pembaruan Red List of Threatened Species ini, jumlah spesies yang secara resmi terdaftar sebagai terancam punah sekarang melebihi 40.000.

Salah satu yang disorot dalam pembaruan ini adalah desman Pyrenean semi-akuatik, mamalia yang hanya ditemukan di sungai-sungai di Andorra, Prancis, Portugal, dan Spanyol.

Makhluk berhidung tabung ini telah "terdaftar" dari "rentan" menjadi "terancam punah".

Dengan hidung panjang sensitif dan kaki berselaput besar, ini adalah salah satu dari hanya dua spesies desman yang tersisa di dunia.

Populasi desman Pyrenean telah menurun sekitar setengahnya sejak 2011, terutama karena dampak manusia pada habitat sungainya, termasuk pembangkit listrik tenaga air, konstruksi bendungan dan waduk, serta ekstraksi air untuk pertanian.

TERKINI
Bolehkah Langsung Salat Setelah Mandi Junub Tanpa Wudhu? Jerman Suntik Dana Tambahan Rp404 Miliar untuk Krisis Sudan Iran Gunakan Satelit Mata-Mata China Intai Pangkalan Militer AS 8 Asia Telah Larang Penggunaan Vape, Indonesia Menyusul?