Lewat Sekolah Lapang, Kementan Sosialisasikan Penggunaan Pupuk yang Efektif

Selasa, 12/10/2021 09:41 WIB

Bima, Jurnas.com - Penggunaan pestisida nabati yang efektif juga disosialisasikan melalui Sekolah Lapang (SL) Proyek Integrated Partisipatory Development and Management of Irrigation Project (IPDMIP), yang dijalankan Kementerian Pertanian (Kementan).

Kali ini materi penggunaan pestisida nabati yang efektif disampaikan di Karanu Ntonggu, Kecamatan Palibelo, Bima, Nusa Tenggara Timur. Daerah ini salah satu yang mendapat pelatihan program SL daerah irigasi.

"Peserta kegiatannya dari Kelompok Tani Oi Wontu diikuti 30 orang," ujar penyuluh setempat, Nurjahratulaillah melalui keterangan tertulisnya, Selasa (12/10).

Nurjahratulaillah menjelaskan, para peserta ini merupakan petani jagung, yang fokus untuk materi pelatihan seputar penggunaan pestisida nabati dan bagaimana kerjanya.

"Pengetahuan ini sangat penting karena masih banyak petani yang belum memahami secara tepat bagaimana cara penggunaan pestisida nabati yang efektif seperti apa," kata perempuan yang biasa disapa Nur itu.

Dia yakin pemahaman mengenai pemakaian pestisida yang baik mampu meningkatkan hasil panen menjadi lebih optimal. "Sehingga hasil panen para petani meningkat. Ini yang terus kami gojlok sejak akhir September kemarin," katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan, saat ini negara maju sudah mulai menghindari produk pertanian yang disinyalir mengandung residu pestisida, logam berat, dan agrokimia.

"Salah satu tuntutan negara maju menerima pangan yang diekspor dari berbagai negara lain, termasuk Indonesia adalah pangan yang akan dikonsumsi harus bebas dari residu pestisida, logam berat, dan harus bebas dari agrokimia.

"Bahkan, saat ini mereka memperluas tuntutan, yaitu pangan yang akan dikonsumsi harus betul-betul bebas dari pencemaran lingkungan, termasuk bebas dari bahan-bahan penghasil gas rumah kaca," sambung Dedi.

Karena itu, Dedi mendorong para petani untuk melakukan pertanian organik. Menurutnya, walaupun pertanian organik produktivitasnya rendah, tapi keuntungannya sangat menggiurkan.

"Saat ini pertanian organik luar biasa karena pertanian organik itu hampir tidak ada input agromimia. Pertanian organik saat ini sudah berkembang pesat ditambah lagi inovasi teknologi pertanian organik luar biasa," ujar Dedi.

TERKINI
NRC Sebut Gencatan Senjata Lebanon `Momen Harapan` bagi Warga Sipil Fellowship Tanoto Foundation Cohort Dibuka, Ini Kriteria dan Jadwalnya PGRI Desak Pemerintah Buka CPNS Guru dan Setop Skema PPPK Myanmar Beri Amnesti untuk 4.335 Tahanan, Termasuk Suu Kyi