Six Pack Tanpa Exercise, Bedah, dan Pantangan: Siapa Takut?

Eka Wahyu Pramita | Minggu, 16/09/2018 10:04 WIB

Latihan fisik yang berlebihan bisa memicu stres, trauma pada otot dan dalam jangka panjang akan berdampak pada persendian. Spesialis bedah dr Danu Mahandaru (Foto: Ecka Pramita)

Jakarta - Setiap orang pasti mendambakan bentuk tubuh yang ideal. Tak sekadar seimbang antara tinggi dan berat badan, namun membentuk otot yang atletis dan indah juga menjadi impian banyak orang.

Pada umumnya seseorang akan menjalankan serangkaian program diet, pengaturan pola makan sehat, meneyimbangkan aktivitas olah raga dan relaksasi atau istirahat untuk mewujudkan tubuh impiannya. Namun tak jarang pula seseorang menempuh cara-cara instan, misalnya melakukan bedah atau sedot lemak untuk bisa tampil menawan secara instan.

Pada awalnya seseorang akan merasa terganggu saat berat badan bertambah secara ekstrim, membuat bentuk tubuh tak menarik. Secara naluriah, seseorang akan merasa perlu membakar kalori lebih banyak melalui aktivitas fisik yang menguras tenaga.

Fitnes, berenang, dan body combat serta berbagai aktivitas olah fisik kerap menjadi pilihan, terutama bagi mereka yang masih berusia di bawah 40 tahun.

Baca juga :

Mungkin ada yang berhasil dengan menerapkan exercise secara rutin, programatik. Melalui latihan fisik yang teratur, lemak secara dramatis berkurang dalam beberapa bulan, bahkan mulai menghilang, dan tubuh impian sudah di depan mata. Namun semua hal terdapat sisi positif dan negatif, tak terkecuali program exercise dengan tujuan mencapai tubuh ideal.

Latihan fisik yang berlebihan akan memicu stres, trauma pada otot dan dalam jangka panjang akan berdampak pada persendian. Risiko yang terjadi saat melakukan exercise tersebut menjadi alasan bagi orang untuk menempuh cara yang lebih instan dengan melakukan operasi untuk membuang lemak.

Dr. Danu Mahandaru Sp., BP-RE berpandangan bahwa otot merupakan pertahanan tubuh, “memakai korset justru akan memanjakan otot, selama tiga bulan yang dianjurkan, karena terlalu lama bisa membuat otot kendur.”

"Perkembangan teknologi medis dan estetik saat ini telah memunculkan berbagai inovasi untuk membantu seseorang mewujudkan tubuh ideal tanpa risiko. Salah satu keajaiban teknologi tersebut antara lain mampu meluruhkan lemak, mengencangkan kulit, anti-selulit serta anti-keriput tanpa bedah ataupun exercise," paparnya di Jakarta, Sabtu (15/9).

Lain halnya dengan artis Ira maya Sophia, menurutnya treatmen non invasif tanpa exercise harus dicombine dengan treatmen lain. Exercise bagi penderita obesitas akan berisiko mencederai lutut dan memicu penyakit jantung, sehingga perlu pendekatan multi-disiplin untuk meminimalisir lemak.

"Misalnya, lemak di bawah kulit atau di balik usus tak bisa dihilangkan dengan berolahraga, karena berisiko pada penutupan dinding rongga usus sehingga mengurangi nafsu makan," ucapnya.

“Ada bagian dari lemak yang susah hilang hanya dengan workout, dan exercise direkomendasikan untuk usia di atas 17 tahun,” imbuh dr Danu.

Sebenarnya, lemak secara alamiah akan terbuang melalui urine, sehingga bisa fokus dengan pembentukan massa otot. Terkait dengan operasi lemak, Ira berpandangan bahwa operasi identik dengan kurus permanen, meski efeknya lebih lama tapi tak bisa menjamin selamanya.

Mewujudkan tubuh ideal, perut six pack tanpa latihan fisik tanpa operasi lemak atau non invasif merupakan pendekatan baru dalam dunia kecantikan.

Sebagai klinik yang berkomitmen terhadap kesehatan dan kecantikan, The Clinic Beautylosophy bekerjasama dengan perusahaan teknologi perawatan kecantikan BTL Aesthetic, menghadirkan Emsculpt sebagai teknologi non invasif tanpa exercise.

Treatmen menggunakan Emsculpt selama 30 menit setara dengan 20.000 kali sit-up. “Dengan treatment ini jedanya tiga hari, sehari sebelum tritmen berhenti olahraga agar siap untuk Mengerahkan aset tersembunyi, everyone can be hero,” ujar dr Danu.

Emsculpt merupakan treatment yang dilakukan dengan konsultasi serta tak ada pantangan makanan setelah treatment. 

TAGS : Six Pack Otot Bedah Tubuh Ideal