Ilustrasi seorang perempuan yang mengalami sembelit (Foto: BAB/Canva)
Jakarta, Jurnas.com - Kerap kali orang berpandangan bahwa buang air besar (BAB) harus dilakukan setiap hari agar dikatakan normal. Padahal, frekuensi BAB yang dianggap normal bisa berbeda untuk setiap orang, selama tidak ada keluhan nyeri, keras, atau berdarah.
Kecuali, jika seseorang jarang BAB atau bahkan hanya dua kali seminggu, ini bisa menjadi tanda sembelit atau gangguan pencernaan.
Jarang BAB biasanya terkait langsung dengan asupan serat yang rendah. Serat berfungsi menambah massa pada feses dan membantu usus bergerak secara teratur. Ketika tubuh kekurangan serat, feses menjadi keras dan sulit dikeluarkan sehingga frekuensi BAB berkurang.
Kebiasaan kurang minum juga berpengaruh besar. Cairan membantu melunakkan feses dan memudahkan proses pembuangan. Saat tubuh kekurangan air, usus menyerap lebih banyak cairan dari feses, menjadikannya kering dan keras.
Kurangnya aktivitas fisik adalah faktor lain yang sering diabaikan. Olahraga membantu merangsang gerakan peristaltik usus. Orang yang memiliki gaya hidup sedentari cenderung lebih sering mengalami sembelit.
Menahan keinginan untuk BAB juga dapat membuat ritme pencernaan terganggu. Jika dilakukan berulang, tubuh kehilangan refleks alami sehingga feses menumpuk lebih lama dan menjadi lebih keras.
Perubahan pola makan, seperti diet tinggi protein atau penggunaan produk susu berlebihan, dapat memperlambat kerja usus. Beberapa orang juga sensitif terhadap makanan tertentu yang memengaruhi pergerakan usus, misalnya makanan berlemak dan gorengan.
Kondisi hormon turut berperan. Pada perempuan, perubahan hormon menjelang menstruasi dapat menyebabkan konstipasi. Begitu pula pada masa kehamilan, di mana peningkatan hormon progesteron membuat usus lebih lambat bekerja.
Stres dan gangguan kecemasan juga memengaruhi kesehatan pencernaan. Sistem saraf usus sangat sensitif terhadap hormon stres sehingga gerakan usus bisa menjadi lambat ketika seseorang mengalami tekanan emosional.
Obat-obatan tertentu, seperti antidepresan, obat nyeri, suplemen zat besi, dan obat untuk tekanan darah tinggi, memiliki efek samping yang dapat memicu sembelit. Konsultasi dengan dokter diperlukan sebelum mengganti dosis.
Beberapa kondisi medis seperti irritable bowel syndrome (IBS), hipotiroid, diabetes, atau penyakit saraf dapat menjadi penyebab lebih serius terjadinya jarang BAB. Pemeriksaan diperlukan jika sembelit berlangsung lebih dari beberapa minggu.
Pola tidur yang tidak teratur turut berdampak. Ritme tubuh termasuk pencernaan dipengaruhi jam biologis. Saat jam tidur terganggu, refleks BAB di pagi hari pun ikut berubah.
Untuk mengatasinya, memperbaiki pola makan dengan meningkatkan konsumsi serat dari buah, sayur, dan biji-bijian adalah langkah utama. Minum cukup air, olahraga teratur, dan menghindari kebiasaan menahan BAB akan membantu memulihkan ritme alami usus.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
penyebab jarang BAB masalah sembelit fungsi pencernaan




















