Sabtu, 29/11/2025 13:23 WIB

Kenali Siklon Tropis Senyar, Pemicu Banjir dan Longsor di Aceh–Sumut





Sejumlah wilayah di pulau Sumatra dilanda banjir dan tanah longsor setelah hujan ekstrem. Kondisi ini dikaitkan dengan kemunculan Siklon Tropis Senyar

anjir yang merendam pemukiman warga di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara, Selasa (25/11). (BPBD Kabupaten Tapanuli Utara)

Jakarta, Jurnas.com - Sejumlah wilayah di pulau Sumatra seperti Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara dilanda banjir dan tanah longsor setelah hujan ekstrem mengguyur selama beberapa hari terakhir. Kondisi ini dikaitkan dengan kemunculan Siklon Tropis Senyar, yang disebut sebagai fenomena langka karena badai tropis tersebut terbentuk di kawasan yang sebelumnya dinilai mustahil melahirkan siklon.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap bahwa Senyar berasal dari Bibit Siklon Tropis 95B yang berkembang di perairan sempit dan dangkal Selat Malaka. Kondisi laut yang hangat memperkuat suplai uap air sehingga memicu pertumbuhan awan konvektif di utara Sumatra.

Karena pertumbuhan awan itu terus meningkat, intensitas hujan mencapai kategori sangat lebat hingga ekstrem dan memicu bencana di sejumlah wilayah. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menyebut efek Senyar dapat meluas selama sistem ini masih bergerak di sekitar kawasan tersebut.

Fenomena ini sekaligus memperlihatkan babak baru dinamika cuaca ekstrem di wilayah tersebut, sebab Selat Malaka selama ini dianggap terlalu dekat ekuator untuk melahirkan badai tropis. Namun perubahan pola atmosfer dalam beberapa tahun terakhir membuat wilayah ini semakin rentan terhadap perkembangan sistem bertekanan rendah.

Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menegaskan bahwa Indonesia memang jarang menjadi jalur siklon tropis, tetapi tren lima tahun terakhir menunjukkan semakin banyak badai yang bergerak mendekati Nusantara. Karena itu, ia menilai kewaspadaan publik menjadi krusial ketika fenomena tidak umum seperti Senyar muncul di perairan yang dekat dengan daratan.

Sementara itu, nama Senyar sendiri diberikan oleh India Meteorological Department sesuai prosedur WMO, sebab badai ini terbentuk di luar wilayah tanggung jawab TCWC Jakarta. Penamaan tersebut berbeda dengan pola penamaan siklon di Indonesia yang biasanya memakai nama bunga.

Siklon Tropis Senyar Punah, tetapi Cuaca Ekstrem Masih Bayangi Indonesia

Pada 27 November 2025, BMKG melaporkan prospek cuaca mingguan periode 28 November–04 Desember 2025, yang di antara isinya menyatakan bahwa Siklon Tropis "Senyar" yang terbentuk di Selat Malaka punah, namun jejaknya masih memicu hujan ekstrem di wilayah Sumatra. Kondisi ini berkaitan dengan curah hujan sangat tinggi pada 25–27 November yang mencapai lebih dari 300 mm per hari di beberapa daerah.

Karena gelombang Rossby Ekuator aktif pada periode yang sama, intensitas hujan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat meningkat signifikan. Sementara itu Siklon Tropis Koto di Laut Filipina turut memberi dampak tidak langsung berupa hujan lebat dan gelombang tinggi di perairan utara Indonesia.

BMKG menjelaskan bahwa sepekan ke depan cuaca Indonesia masih dipengaruhi fenomena atmosfer global, termasuk Dipole Mode negatif dan La Nina lemah yang memperkuat pembentukan awan hujan. Selain itu penguatan Monsun Asia meningkatkan pasokan uap air dari Samudra Hindia ke wilayah daratan.

Aktivitas Madden–Julian Oscillation kemudian bersinggungan dengan Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator yang muncul di Selat Malaka hingga selatan Jawa. Kombinasi fenomena ini membuka peluang peningkatan hujan di banyak wilayah dalam beberapa hari ke depan.

Siklon Tropis Koto yang stabil bergerak ke arah Laut Cina Selatan tetap memberi dampak berupa hujan lebat di Kepulauan Riau dan gelombang tinggi hingga empat meter di sejumlah perairan. Di sisi lain eks-Siklon Senyar yang bergerak di Malaysia masih berpotensi menimbulkan hujan sedang hingga ekstrem di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Riau.

Pada periode 28 November–3 Desember, cuaca Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga ekstrem di berbagai provinsi, terutama di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. BMKG menyebut beberapa wilayah masuk kategori siaga dan awas hujan sangat lebat, termasuk Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi banjir, longsor, dan angin kencang yang dapat mengganggu aktivitas harian. Publik diminta memantau informasi resmi serta menghindari area terbuka saat terjadi hujan deras disertai petir, dengan tetap tenang atau tidak panik.

Dengan Indonesia menjadi salah satu negara yang paling sering terdampak bencana hidrometeorologi, kemunculan Senyar hingga siklon tropis lainnya mempertegas perlunya penguatan pemantauan berbasis sains. Karena itu, peringatan dini dan edukasi publik menjadi fondasi untuk meminimalkan risiko ketika fenomena cuaca ekstrem terus menunjukkan pola yang semakin tidak stabil. (*)

KEYWORD :

Siklon Tropis Senyar Bencana Alam Banjir dan Longsor Pulau Sumatra




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :