Rabu, 25/08/2021 19:59 WIB
JAKARTA, Jurnas.com – Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Willy Aditya meminta agar Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI menjadi penggerak narasi kebangsaan untuk memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa.
“LPP RRI kita bangun bersama-sama narasi kebangsaan. Sebab, kalau ini kita tidak jaga (kebangsaan), bisa hilang anugerah besar di kolong langit yang bernama Indonesia, negara berbangsa, dan banyak suku agama ini," kata Willy Aditya menanggapi isi buku `Atas Nama Publik; Transformasi Lembaga Penyiaran Publik Sebagai Media Layanan Publik Multiplatform` karya jurnalis senior Freddy Ndolu di Jakarta, Selasa (25/8/2021).
Menjelang 75 tahun usia RRI, tepatnya 11 September 2021 nanti, Freddy Ndolu yang juga Dewan Pengawas (Dewas) RRI ini membedah buku barunya itu dengan tema `Dekrit Pencerdasan Bangsa`.
Selain Willy, hadir sejumlah narasumber lain dalam bedah buku tersebut antara Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Muklis Basri, Mewakili Dewan Pers Asep Setiawan, dan Pakar hukum tata negara Margarito Kamis.
Hizbullah: Gencatan Senjata Tidak Bisa Sepihak, Janji Balas Serangan Israel
Parlemen Klaim Kemenangan Iran, Sebut Gencatan Senjata Strategi
Insiden Delay Bagasi Parah di Bandara KLIA, Menteri Panggil Pengelola
Pada kesempatan yang sama, Muklis Basri juga berpesan agar sebelum mendorong dekrit pencerdasan bangsa, perlu seluruh komponen membenahi RRI, khususnya secara internal.
"Pesan saya kepada seluruh LPP RRI, benahi dulu internal, jangan ribut pada momentum tertentu saja," ujar Muklis.
Asep Setiawan pun mendukung LPP RRI bertransformasi menjadi media layanan publik multiplatform.
Memang, menurut Asep, cara menyampaikan informasi perlu ikut tuntutan zaman.
"Substansi jurnalistik, dengan menyampaikan informasi melalui media massa tidak akan pernah berubah. Membangun Indonesia, tetapi teknologi untuk mendeliver news berubah, kita sekarang menulis pakai gadget. Jadi substansi tidak berubah, hanya caranya berubah," ujar Asep.
Pakar hukum Tata Negara Margarito Kamis turut memberikan masukan, bahwa RRI harus berani berbicara meskipun berbeda dengan pemerintah.
"Buku ini secercah harapan jika tidak bisa mengubah dunia, paling tidak Indonesia, di titik inilah saya mencoba mengapresasi lahirnya buku ini," tutur Margarito.
Penulis Buku Freddy Ndolu menegaskan, buku yang ia tulis adalah sebuah pemacu semangat bagi seluruh jurnalis di tanah air, untuk terus berkarya. Sebab, peran jurnalis sangatlah penting, sebagai penjaga demokrasi.
"RRI sekali lagi jangan dilihat sebagai radio lagi, Karena semua sudah terkorvengensi. Ini semacam provokasi pemikiran, wartawan tugasnya mengeducate menginformasikan. Saya kira negara perlu memberikan satu payung hukum tegas berbentuk dekrit pencerdasan bangsa," kata Freddy.