LSI: Kampanye Kritis Hal Biasa

Sabtu, 12/11/2016 12:16 WIB

Jakarta - Negative campaign atau kampanye kritis menjadi sesuatu hal yang biasa dilakukan dalam setiap kontestasi pelaksanaan Pilkada saat kampanye.

Peneliti Eksekutif Lingkar Survei Indonesia (LSI) Adjie Alfaraby mengatakan, pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta bisa menjadi contoh pelopor bagi pelaksanaan Pilkada di daerah-daerah lain.

"Diharapkan Pilkada DKI bisa menjadi contoh untuk menjadi pemilu yang modern, dimana kampanye kritis (negative campaign) menjadi sesuatu hal yang biasa," kata Adjie, dalam acara diskusi bertejuk `Hitam Putih Pilkada DKI`, di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (12/11).

"Maksudnya, dimana satu calon menyerang calon lain atas dasar fakta yang menjadi kekurangan rival calon tersebut, baik dari kebijakan maupun dari prilakunya bisa dilakukan secara terbuka," tambah dia.

Sebab, sambung Adjie, selama ini justru kampanye kritis cenderung belum bisa diterima atau tidak menjadi sesuatu hal biasa dan terbuka, sehingga black campaign justru menjadi sarana yang paling diminati untuk menyerang lawan calon kandidat tertentu.

"Selama ini, negative campaign tidak bisa dilakukan, lantaran ketika itu dilakukan lebih sering menimbulkan sikap anarkis baik dari massa relawan ataupun pendukung calon yang diserang melalui kampanye kritis secara terbuka," tandasnya.

TERKINI
Iran: Keamanan Hormuz Bergantung pada Kebebasan Ekspor Minyak Iran Kalah dari Manchester City, Arteta: Peluang Arsenal Juara Masih Terbuka Ilmuwan Kini Bisa "Mengedit" Sirkuit Otak untuk Meningkatkan Daya Ingat Pertamina Diingatkan, Kenaikan BBM Nonsubsidi Tambah Beban Masyarakat