Melawan Raja, Thaksin dan Yingluck Dikudeta

Jum'at, 14/10/2016 07:53 WIB

Pengaruh dan kekuasaan Raja Thailand Bhumibol Adulyadej sangat besar. Siapa pun Perdana Menteri negara itu mau tak mau harus tunduk pada kemauan kerajaan. Tak hanya soal budaya dan keagamaan, melainkan juga masuk wilayah strategis, termasuk kepentingan ekonomi.

Monarki menempati kedudukan yang sangat penting di tengah rakyat Thailand. Raja Bhumibol dicintai publik dan kerap diperlakukan bak dewa.

“Monarki di atas segala konflik,” ujar Winthai Suvaree, juru bicara tentara Thailand seperti dikutip kantor berita AFP.

Ucapan ini menegaskan pandangan bahwa junta militer, yang menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra adalah pendukung setia kerajaan.

Dengan dalih akan mengembalikan stabilitas di Thailand, militer mengambil alih kekuasaan pada 22 Mei 2014 setelah negara itu berbulan-bulan diguncang demonstrasi antipemerintah.

Begitu juga kudeta terhadap Perdana Menteri Thaksin Shinawatra pada 2006. Salah satu alasan untuk membenarkan kudeta militer itu karena Thaksin dianggap mengabaikan institusi monarki, tuduhan yang belakangan dia bantah.

 

TERKINI
Baleg DPR Kaji Usulan Dana Otsus Aceh 2,5 Persen dari DAU Alasan Salat Tahiyyatul Masjid Sangat Ditekankan Kawasan Transmigrasi Disiapkan jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru Ini Zodiak yang Dikenal Paling Jago Menggoda, Siapakah Dia?