Rabu, 07/10/2020 06:11 WIB
New York, Jurnas.com - Facebook dan Twitter mengambil tindakan terhadap unggahan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang menyebut virus corona (COVID-19) sama seperti flu.
Data dari alat metrik media sosial Crowdtangle menunjukkan bahwa Facebook menghapus unggahan Trump tetapi tidak sebelum dibagikan sekitar 26.000 kali.
"Kami menghapus informasi yang salah tentang keparahan COVID-19," kata juru bicara perusahaan kepada Reuters.
Perusahaan media sosial terbesar di dunia, yang membebaskan politisi dari program pengecekan fakta pihak ketiganya, jarang mengambil tindakan terhadap unggahan presiden dari partai Republik AS.
Biaya Perang Amerika Serikat terhadap Iran Tembus Rp1.000 Triliun
Trump Perintahkan Tembak Setiap Kapal yang Pasang Ranjau di Selat Hormuz
FIFA Rilis Tambahan Tiket Piala Dunia, Babak Final Tembus Rp188 Juta!
Bukan hanya Facebook, Twitter juga menonaktifkan retweet pada twit serupa dari Trump pada Selasa (6/10).
Twitter bahkan menambahkan label peringatan yang mengatakan melanggar aturannya perihal menyebarkan informasi yang menyesatkan dan berpotensi berbahaya terkait dengan COVID-19.
Selama musim influenza 2019-2020, flu dikaitkan dengan 22.000 kematian di Amerika Serikat (AS), menurut perkiraan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.
Sejak kasus pertama COVID-19 tercatat di As pada awal tahun ini, lebih dari 210.000 orang di negara itu telah meninggal karena penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut, angka kematian tertinggi di dunia.
Pada Senin (5/10), Trump mengatakan kepada orang Amerika agar tidak takut akan COVID-19 ketika kembali ke Gedung Putih setelah tinggal tiga malam di rumah sakit militer di luar Washington tempat dia dirawat karena COVID-19.
"Silicon Valley dan media arus utama secara konsisten menggunakan platform mereka untuk menakut-nakuti dan menyensor Presiden Trump untuk menjalankan agenda mereka sendiri, bahkan sekarang selama momen kritis dalam perang melawan virus corona," kata juru bicara kampanye Trump, Courtney Parella.
Twitter, yang telah menggunakan label untuk menandai twit dengan informasi yang salah, termasuk dari presiden mengatakan kepada Reuters bahwa pihaknya saat ini mencoba untuk merespons dengan lebih cepat dan lebih terbuka.
Facebook menghapus postingan Trump karena misinformasi COVID-19 untuk pertama kalinya pada Agustus. Unggahan itu memuat video di mana presiden secara keliru mengklaim bahwa anak-anak hampir kebal terhadap COVID-19. (CHA)