Rabu, 24/06/2020 14:59 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Presiden Iran Hassan Rouhani menilai bahwa permintaan Amerika Serikat untuk melakukan pembicaraan dengan Iran adalah dusta. Karena faktanya, kata Rouhani, itu hanyalah kebohongan semata.
"Mereka (AS) mengatakan `kami siap bernegosiasi`. Mereka mengatakan sesuatu yang aneh. Apa artinya `kami siap bernegosiasi`? Siapa yang meninggalkan meja perundingan? Siapa yang memecahkan meja negosiasi? Siapa yang membakar ruang negosiasi? Itu mereka. Jadi ini adalah kebohongan di atas kebohongan setiap hari," tulis Rouhani dikutip Tass, Rabu (24/06).
Dalam sebuah tweet di awal Juni, Presiden AS Donald Trump mendesak Iran untuk membuat kesepakatan dengan Amerika.
Sejak 2018, ketika Trump keluar dari perjanjian nuklir Iran tahun 2015 dengan enam kekuatan, Washington telah menerapkan kembali sanksi untuk menekan ekspor minyak Iran sebagai bagian dari kebijakan tekanan maksimum.
Legislator Golkar: Perdamaian AS-Iran Dapat Perkuat Stabilitas Pasar Global
Pengamat: Data Strategis Indonesia Tak Boleh Lepas dari Kendali Negara
Wakil Presiden AS: Tidak Ada Bukti Iran Masih Tutup Selat Hormuz
Amerika Serikat mengatakan tujuannya adalah untuk memaksa Teheran untuk menyetujui kesepakatan yang lebih luas yang membatasi kerja nuklirnya, membatasi program rudal balistiknya, dan mengakhiri perang proksi regionalnya.
Sementara itu, Iran telah lama mengatakan tidak akan bernegosiasi selama sanksi tetap ada.