Udara Tropis Tekan Penyebaran Virus Corona

Sabtu, 04/04/2020 13:25 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Kajian tim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bersama guru besar dan doktor di bidang mikrobiologi Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkapkan, kondisi cuaca di lingkungan tropis cenderung tidak ideal untuk penyebaran virus corona (Covid-19).

Namun, fakta menunjukkan bahwa kasus gelombang kedua Covid-19 telah menyebar di Indonesia sejak awal Maret 2020. Hal tersebut diduga akibat faktor mobilitas manusia dan interaksi sosial yang lebih kuat berpengaruh, daripada faktor cuaca.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, tim pengkaji ini telah melakukan analisis statistik, pemodelan matematis, dan studi literatur tentang pengaruh cuaca dan iklim dalam penyebaran Covid-19. Hasil kajian yang telah disampaikan kepada Presiden dan beberapa kementerian terkait pada 26 Maret lalu ini, menunjukkan adanya indikasi pengaruh cuaca dan iklim dalam mendukung penyebaran wabah Covid-19.

“Hasil analisis juga menunjukkan sebaran kasus Covid-19 pada saat outbreak gelombang pertama, berada pada zona iklim yang sama, yaitu pada posisi lintang tinggi wilayah subtropis dan temparate," kata Dwikorita, Sabtu (4/4/2020).

Dari hasil penelitian tersebut, lanjut Dwikorita, dapat disimpulkan sementara bahwa negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis.

Penelitian Chen et. al. (2020) dan Sajadi et. al. (2020) menyatakan bahwa kondisi udara ideal untuk virus corona adalah pada temperatur sekitar 8-10 derajat Celcius dan kelembapan 60-90%.

“Artinya dalam lingkungan terbuka yang memiliki suhu dan kelembapan yang tinggi merupakan kondisi lingkungan yang kurang ideal untuk penyebaran kasus Covid-19,” jelasnya.

Selanjutnya penelitian oleh Bannister-Tyrrell et. al. (2020) juga menemukan adanya korelasi negatif antara temperatur di atas 1 derajat Celcius dengan jumlah dugaan kasus Covid-19 per hari.

“Mereka menunjukkan bahwa Covid-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah (1-9 derajat Celcius). Artinya semakin tinggi temperatur, maka kemungkinan adanya kasus Covid-19 harian akan semakin rendah," ungkap Dwikorita.

TERKINI
Komisi III DPR Serap Aspirasi Aktivis untuk Sempurnakan RUU Polri Kejagung Usut Dugaan Jual Beli Izin SPPG Program MBG Terus Digempur, Beberapa Warga Gaza Terluka Akibat Serangan Drone Israel Kasus Pungli di Kementerian Imipas Alarm Perbaikan Integritas Birokrasi