Minggu, 23/02/2020 14:24 WIB
Washington, Jurnas.com - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) kembali mengumumkan jumlah tentara cedera otak traumatik dalam serangan rudal pembalasan Iran di Irak bulan lalu.
Pentagon mengatakan pada Jumat (21/2), 110 anggota layanan didiagnosis cedera otak traumatik setelah serangan Iran pada 8 Januari. Angka itu lebih tinggi dari jumlah korban terakhir yang diumumkan pada 10 Februari.
Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) menembakkan peluru kendali balistik ke Ain al-Asad, pangkalan udara besar yang menampung sekitar 1.500 tentara AS, dan pos terdepan lainnya di Erbil, ibukota Kurdistan Irak semi-otonom.
Operasi rudal itu sebagai tanggapan atas pembunuhan Washington 3 Januari atas Jenderal Iran, Qassem Soleimani, yang memimpin Pasukan Quds IRGC.
Iran Peringatkan Perang dengan AS Bisa Meluas hingga Samudra Hindia
Pezeshkian Tegaskan Iran Terbuka untuk Dialog tetapi Tolak Tekanan
Iran Sampaikan Syarat ke AS Lewat Qatar, Bahas Akhir Perang hingga Blokade
Pembunuhan itu juga mengakibatkan kematian Abu Mahdi al-Muhandis, yang merupakan komandan kedua dari Unit Mobilisasi Populer (PMU) Irak.
Berbicara pada pagi hari setelah operasi militer timbal balik Iran, Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa tidak ada pasukan Amerika yang terluka dalam serangan tersebut.
"Kami tidak menderita korban, semua prajurit kami selamat, dan hanya kerusakan minimal yang terjadi di pangkalan militer kami," tambahnya.
Pentagon juga pada awalnya mengesampingkan korban dari serangan itu. (Press TV)