Senin, 23/12/2019 11:20 WIB
Istanbul, Jurnas.com - Turki menjadi pilihan logis para imgran baru yang berasal dari Suriah. Imigran ini berpindah setelah kondisi Suriah sangat tidak stabil.
Namun, meski jadi ternyata Turki mengaku tidak bisa tangani serbuan imigran dari Suriah itu. Hal ini diungkap Presiden Tayyip Erdogan.
Erdogan juga menyebutkan bahwa negara-negara Eropa akan terkena imbas gelombang masuk migran apabila kekerasan di kawasan Idlib Suriah tidak dihentikan.
Berbicara di saat ajang penghargaan di Istanbul, Erdogan mengatakan lebih dari 80.000 orang saat ini melarikan diri dari Idlib menuju Turki akibat bombardir Rusia dan Suriah di kawasan tersebut.
Menikahi Janda, Benarkah Ada Pahala dan Keutamaan Tersendiri?
Ledakan Pabrik Gas Tewaskan 13 Orang, Termasuk Pekerja Asing
Mengapa Hari Janda Internasional Diperangati Setiap 23 Juni?
Menurutnya, negara Eropa tak bisa menghindar untuk melihat kondisi seperti ini pada krisis migran 2015 kecuali membantu menghentikan kekerasan di kawasan tersebut.
Erdogan mengatakan Turki bersama Rusia sedang melakukan berbagai kemungkinan agar bombardir di Idlib dapat dihentikan.
Erdogan mengatakan, delegasi Turki akan bertolak ke Moskow guna membahas perkembangan di Suriah sehingga Turki dapat menentukan langkah selanjutnya yang akan diambil seusai pembicaraan tersebut.
Keyword : Turki Tayyip Erdogan Imigran Suriah Rusia