Perekonomian Indonesia Terancam, Indef Kritisi Program Kartu Pra-Kerja

Jum'at, 20/12/2019 15:40 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Lembaga kajian ekonomi Institute for Development of Economics and Finance ( INDEF) membeberkan catatan kritis terkait kondisi ekonomi nasional serta kebijakan pemerintah yang dinilai tidak maksimal.

Ekonom Senior INDEF, Dr. Aviliani mengatakan, resesi ekonomi global sudah di depan mata. Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan hanya akan sebesar 3.0 persen tahun ini, lebih rendah dibanding 2018 sebesar 3,6 persen.

Sebabnya, kata Aviliani, pertumbuhan okonomi negan-negara maju semakin melesu bahkan diproyeksikan akan berada di bawah 2 persen.

Sedangkan negara berkembang terpangkas menjadi 3,9 persen dibanding 2018 yang tumbuh 4.5 person.

"Kemelut ekonomi global ini berpotensi menjalar ke perekonomian Indonesia," ujar Aviliani dalam di Restauran Rantang Ibu – INDEF Club, ITS Office Tower, Jl. Raya Pasar Minggu No.18, Pejaten Timur, Jaksel, Junat (20/12/2019).

Bersama Aviliani, hadir sebagai pembicara Esther Sri Astuti, Ph.D (Direktur Program INDEF), Dr. Enny Sri Hartati (Ekonom Senior INDEF), Dr. Evi Noor Afifah (Ekonom INDEF), Eisha Magfiruha Rachbini, Ph.D (Peneliti INDEF), Riza Pujarama, M.Si (Peneliti INDEF), dan Mirah Midadan Fahmid, M.Sc (Peneliti INDEF).

Kata Aviliani, faktanya pertumbuhan ekonomi Indonesia bergeming dan stagnan di angka 5 persen, itu pun karena pertumbuhan konsumsi. Sedangkan ekspor terkendala penurunan harga komoditas dan imbas perang dagang.

Ada beberapa hal kritis yang disampaikan Indef sebagai catatan akhir tahun. Misalnya anggaran Kartu Pra-Kerja sebesar Rp10 Triliun dengan target 2 juta peserta. Ini tidak sejalan dengan pembukaan lapangan kerja di Kemenaker yang hanya sebesar 180 ribu orang.

"Lagi pula, sertifikat yang didapat oleh peserta program Pra-Kerja juga tak menjamin mereka dapat pekerjaan," jelasnya.

Kata Aviliani, hal ini tak lain karena dunia usaha dan dunia Industri ternyata tak dilibatkan secara langsung dalam program Kartu Pra-Kerja.

Lebih dari itu, ia menyebut desain bidang-bidang pelatihan digital belum mengakomodasi lowongan yang ada, khusuanya bagian desain dan perakit mesin, bidang pengolahan dan kerajinan, serta pada bidang pekerja kasar.

TERKINI
OTP Keberangkatan Jamaah Haji dari Bandara InJourney Airports Capai 96% Jelang Puncak Haji, Kemenhaj Ingatkan Bahaya Haji Ilegal dan Cuaca Ekstrem Tahun 2025, Tingkat Kecelakaan ASDP 0,220 Persen Gema Waisak, Menag Sebut Pindapata Ajarkan Kesederhanaan dan Kebijaksanaan