Rio Capella: Pembukaan Kongres Nasdem Jokowi Tak Diundang, Anies Dikasi Panggung

Minggu, 10/11/2019 12:30 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Mantan Ketua Umum Partai Nasdem Patrice Rio Capella mengaku merasakan ada kejanggalan dalam pembukaan Kongres partai Nasdem pada 8 November 2019.

Pasalnya, kongres itu tidak dihadiri Presiden Joko Widodo. Sedangkan di sisi lain yang hadir dan diberi porsi bicara adalah Anies Baswedan.

"Jika alasannya karena agenda internal, tapi kenapa Anies Baswedan diundang dan diberi porsi bicara? lngat, Anies hanya terlibat dalam pendirian Ormas Nasdem, bukan Partai Nasdem," ujar Rio Capella.

Kata Rio Capella, ada kondisi sangat mengejutkan saat mendengar Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mengatakan ada pihak yang tidak Pancasilais karena menilai sinis pelukannya dengan Presiden PKS Sohibul Iman.

Padahal, jelas Rio Capella, yang mengomentari pelukan Bang Surya dan Pak Sohibul adalah Presiden Jokowi. "Apakah Bang Surya menuduh Presiden Jokowi tidak Pancasilais?" tegas Rio Capella.

Atas langkah-langkah yang diambil Partai NasDem tersebut, jelas Rio, jangan salahkan publik yang berspekulasi bahwa manuver Nasdem berkaitan dengan kebijakan Presiden memilih Jaksa Agung menggunakan hak prerogatifnya.

"Dan, jika manuver Partai NasDem itu diambil berdasarkan kekecewaan soal kabinet, wajar kalau Presiden Joko Widodo `jengah’ dengan langkah Partai NasDem tersebut," tukasnya.

Terakhir, Rio Capella mohon maaf kepada seluruh kader Nasdem, karena tidak bisa hadir memenuhi undangan acara peringatan HUT Nasdem.

Ke depan, Rio Capella mengaku akan kembali aktif berpolitik. Setelah keluar dari Partai Nasdem.

"Mengenai partai mana yang akan menjadi tempat saya berlabuh, tentunya harus sejatan dengan visi misi untuk Indonesia Maju," tuntas Patrice Rio Capella.

TERKINI
Kiai Utama Tolak Manuver Gus Ipul Memecah NU Kultural dengan Pengurus Trump Perkirakan Iran Setujui Kesepakatan dalam 60 Hari Gandeng Unimed, ASDP Perkuat Kapasitas Perempuan Pesisir Lagi-lagi Pemadaman Listrik di Bandung, Warga Terganggu, PLN Memohon Maaf