Slovenia Berubah Pikiran Soal Status Turki di Uni Eropa

Rabu, 04/09/2019 19:03 WIB

Ankara, Jurnas.com - Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu mengkritik Presiden Slovenia, Borut Pahor yang menawarkan "status khusus" kepada Turki, bukan keanggotaan penuh di Uni Eropa.

Dalam 14th Bled Strategic Forum di Slovenia yang digelar awal pekan ini, Cavusoglu mengatakan bahwa Pahor sedianya sangat mendukung keanggotaan Turki di Uni Eropa hingga tahun lalu.

"Saya tidak tahu apa yang mengubah pikirannya. Mungkin saja (Presiden Prancis Emmanuel) Macron dan beberapa pemimpin lainnya. Namun seharusnya tetap ada prinsip kesinambungan antara negara dengan Uni Eropa," kata Cavusoglu.

Ia mengatakan Turki siap untuk membuka babak baru dalam negosiasi dengan Uni Eropa, terutama jika masalah tersebut berkaitan dengan standar dan komitmen.

Menurut Cavusoglu, jika Turki tidak memenuhi tolok ukur, maka Turki tidak bisa menjadi anggota. "Tetapi jika Turki memenuhi tolok ukur pembukaan negosiasi, maka kita harus benar-benar melanjutkan negosiasi kita," kata dia lagi.

Pahor mengatakan bahwa ia akan menyarankan "status khusus" untuk Turki dan Ukraina, dan keanggotaan penuh UE untuk negara-negara Balkan Barat.

Turki mengajukan keanggotaan di Masyarakat Ekonomi Eropa (pendahulu Uni Eropa) pada 1987. Kemudian, Turki memenuhi syarat menjadi anggota Uni Eropa pada 1997 dan perundingan aksesi dimulai pada 2004.

Namun, negosiasi terhenti pada 2007 karena ditentang oleh pemerintah Siprus Yunani, sekaligus penolakan dari Jerman dan Prancis.

TERKINI
7 Fakta Menarik Tentang Zodiak Taurus yang Jarang Diketahui Mengenal Perbedaan Haji dan Umrah Menurut Al-Qur`an dan Hadis Nabi 10 Contoh Ucapan Hari Bhakti Pemasyarakatan yang Penuh Makna Ini Sejarah Hari Bhakti Pemasyarakatan yang Diperingati Setiap 27 April