Kamis, 23/05/2019 14:43 WIB
Teheran, Jurnas.com - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan ketidaksetujuannya dengan implementasi perjanjian nuklir 2015.
Karena itu, ia pun secara terbuka mengkritik presiden dan menteri luar negeri Iran pada Rabu (22/5).
Komentar mengejutkan Khamenei mencuat di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) setahun setelah Washington menarik diri dari perjanjian itu.
Khamenei, yang memiliki keputusan akhir semua masalah negara itu mengkritik penyelesaian perjanjian itu membatasi pengaruh Presiden Hassan Rouhani dan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif.
Iran Umumkan Penutupan Kembali Selat Hormuz, Bagaimana Sikap AS?
Wakil Presiden AS: Tidak Ada Bukti Iran Masih Tutup Selat Hormuz
Trump Perkenalkan Pesawat New Air Force One, Hadiah dari Qatar
"Sampai taraf tertentu, saya tidak percaya pada cara kesepakatan nuklir dilaksanakan. Saya sudah mengingatkan beberapa kali presiden dan menteri luar negeri," katanya.
Khamenei memberikan cap persetujuan secara implisit pada kesepakatan itu, yang ketika ditandatangani memicu perayaan spontan di seluruh Iran.
Kesepakatan 2015 itu membatasi Iran melakukan pengayaan uraniumnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi yang melumpuhkan negara.
Namun perjanjian tersebut lumpuh setelah Presiden AS Donald Trump menarik kembali dan menerapkan kembali sanksi lama dan bahkan lebih keras lagi.
Khamenei sebelumnya memperingatkan negara Barat, terutama AS, tidak bisa dipercaya. Ia sebelumnya mengatakan Rouhani dan Zarif telah melakukan yang terbaik yang mereka bisa.