Presiden Ekuador Tuding Assange Gunakan Kedutaan Pusat Mata-mata

Senin, 15/04/2019 15:45 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Presiden Ekuador Lenin Moreno menilai, Pendiri WikiLeaks, Julian Assange berulang kali melanggar persyaratan suaka dan mencoba menggunakan kedutaan Ekuador di London sebagai pusat mata-mata.

Polisi London menyeret Assange keluar dari kedutaan pada Kamis setelah suaka tujuh tahunnya dicabut, membuka jalan bagi ekstradisi ke Amerika Serikat untuk salah satu kebocoran terbesar informasi rahasia.

Hubungan Assange dengan tuan rumahnya runtuh setelah Ekuador menuduhnya membocorkan informasi tentang kehidupan pribadi Moreno.

Moreno membantah bahwa dia telah bertindak sebagai pembalasan atas cara dokumen tentang keluarganya bocor. Dia mengatakanmenyesal Assange telah menggunakan kedutaan untuk ikut campur dalam demokrasi negara lain.

"Setiap upaya untuk mengacaukan adalah tindakan tercela bagi Ekuador, karena kita adalah negara berdaulat dan menghormati politik masing-masing negara," kata Moreno dilansir Reuters.

"Kami tidak bisa membiarkan rumah kami, rumah yang membuka pintunya, menjadi pusat mata-mata," tambahnya.

Pendukung Assange mengatakan Ekuador telah mengkhianatinya atas perintah Washington, bahwa penghentian suaka adalah ilegal dan itu menandai saat yang gelap untuk kebebasan pers.

TERKINI
NRC Sebut Gencatan Senjata Lebanon `Momen Harapan` bagi Warga Sipil Fellowship Tanoto Foundation Cohort Dibuka, Ini Kriteria dan Jadwalnya PGRI Desak Pemerintah Buka CPNS Guru dan Setop Skema PPPK Myanmar Beri Amnesti untuk 4.335 Tahanan, Termasuk Suu Kyi