Sabtu, 23/03/2019 15:30 WIB
Christchurch, Jurnas.com – Sepekan setelah tragedi penembakan yang menewaskan 50 orang, Masjid An-Noor di Selandia Baru kembali dibuka pada Sabtu (23/3) pagi.
Di masjid ini, lebih dari 40 jemaah Muslim tewas ditembak oleh seorang tersangka asal Australia, Brenton Tarrant, yang kini mendekam penjara dengan tuduhan pembunuhan.
Aden Diriye, yang kehilangan putranya berusia 3 tahun, Mucad Ibrahim dalam serangan itu, kembali ke masjid bersama teman-temannya.
“Saya sangat senang. Allah itu baik bagi kita. Saya kembali segera setelah kami dibangun kembali, untuk berdoa,” kata Aden dikutip dari Reuters.
Flu Burung Terdeteksi, Populasi Spesies Langka Terancam Punah
Usai Australia, Selandia Baru Laporkan Kasus Pertama Flu Burung
Statistik Head to Head Timnas Iran vs Selandia Baru
Sebagian besar korban penembakan merupakan para migran atau pengungsi. Berita kematian mereka bergema di seluruh dunia Islam mulai dari Turki hingga Indonesia.
Pangeran El Hassan bin Talal dari Yordania, yang mengunjungi masjid Al Noor, mengatakan serangan itu menyerang martabat manusia.
“Ini adalah momen kesedihan mendalam bagi kita semua, semua umat manusia,” ujar El Hassan.
Selain Masjid An-Noor, polisi juga membuka kembali masjid Linwood yang notabene lokasi kedua penembakan selama salat Jumat pekan lalu.
Keyword : Masjid An-Noor Selandia Baru Serangan Bersenjata