Selasa, 12/03/2019 06:51 WIB
Cucuta, Kolombia, Jurnas.com - Selama berbulan-bulan, Ismar Tobar mempertimbangkan meninggalkan Venezuela bersama keluarganya, tetapi mereka menundanya.
Setelah pemadaman listrik yang menghantam sebagian besar kota itu sejak Kamis (7/3), ia pun memutuskan keluar daerah lain membeli persediaan sandang dan pangan.
Tobar, bersama dengan enam anggota keluarganya dan ratusan warga Venezuela lainnya memasuki Kolombia melalui penyeberangan informal kelompok bersenjata yang dikendalikan pada Senin (11/3).
Beberapa warga Venezuela, seperti Tobar dan keluarganya, hijrah ke negara-negara tetangga; yang lain membeli makanan dan pasokan untuk dibawa kembali ke Venezuela.
Perang Iran Ancam Lonjakan Kelaparan Global, 363 Juta Orang Terancam
Seberapa Kuat Militer Amerika Latin Menghadapi Ancaman Militer AS?
Peta Risiko Global Soroti Amerika Latin sebagai Zona Rawan Wabah Penyakit
"Anak-anak saya menangis sepanjang malam karena tidak ada kipas, dan itu sangat panas," kata Tobar kepada Al Jazeera dari kota Cucuta di perbatasan Kolombia.
Hingga Senin (11/3), listrik Venezuela belum juga pulih menyebabkan komunikasi di seluruh negeri terganggu. Bukan hanya itu, makanan dan pasokan air segar juga ikut terganggu.
Setidaknya 15 pasien dialisis telah meninggal karena pemadaman listrik, menurut Codevida, kelompok hak kesehatan Venezuela.
Meskipun beberapa rumah sakit memiliki generator, tidak berarti mesin itu gunakan semaunya. Hanya ketika keadaan darurat saja.
"Sudah sangat sulit, makanan mati," kata Miguel Jauregue, 31 tahun, warga Venezuela yang bekerja di perbatasan Kolombia.
"Lemari es tidak dialiri listrik sudah lama, semua makanan anak-anak saya menjadi basi," katanya.