Kamis, 31/01/2019 04:44 WIB
Caracas - Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyatakan siap melakukan negosiasi dengan oposisi yang didukung Amerika Serikat (AS) melalui mediator internasional, sementara menuduh AS memerintahkan pembunuhannya.
Sebelumnya, pemimpin terisolasi itu, menolak seruan untuk berbicara, mengatakan kepada kantor berita Rusia milik RIA Novosti pada Rabu (30/1) bahwa ia mengubah pendiriannya "demi perdamaian Venezuela dan masa depannya".
Maduro mengatakan perundingan dapat dilakukan dengan mediasi negara-negara lain, seperti, Meksiko, Uruguay, Bolivia, Vatikan, dan Rusia sebagai pihak ketiga yang bisa jadi pilihan.
Ia menuduh Presiden AS, Donald Trump mengorganisir untuk pembunuhannya. Ia mengaku mengetahui "perintah" Trump kepada Kolombia dan mafia lokal untuk melaksanakannya.
Uni Eropa Bakal Pulihkan Hubungan Diplomatik dengan Suriah
Terancam Krisis Avtur, Uni Eropa Siapkan Rencana Darurat
PM Italia Usul Penangguhan Aturan Defisit UE di Tengah Risiko Konflik
"Jika sesuatu terjadi pada saya suatu hari maka Trump dan Presiden Kolombia Ivan Duque akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada saya," kata Maduro, dilansir dari Al Jazeera.
"Pada saat yang sama, saya dilindungi. Kami memiliki sistem pertahanan yang baik dan terlebih lagi, kami memiliki perlindungan yang lebih signifikan - ini adalah perlindungan dari Tuhan yang akan memberi saya umur panjang," sambungnya.
Keyword : Kudeta VenezuelaAmerika SerikatUni Eropa