Senin, 03/12/2018 09:08 WIB
Paris - Presiden Prancis, Emmanuel Macron akan mengadakan pertemuan keamanan darura, Senin (3/11) sehari setelah akhir pekan ketiga aksi kekerasan berlangsung di Paris.
Sejak protes anti pemerintah meletus 17 November lalu, aparat keamanan sudah menahan 183 orang, sedikitnya 100 cedera termasuk di antaranya petugas, dan beberapa orang tewas kecelakaan mobil yang disebabkan kemacetan lalu lintas.
Macron, Perdana Menteri Edouard Philippe dan Menteri Dalam Negeri Prancis Christophe Castaner berencana mengadakan pertemuan Kabinet untuk menangani demonstran yang mengamuk karena mahalnya biaya hidup ulah kenaikan pajak bahan bakar.
Presiden kembali dari pertemuan G20 di Buenos Aires, Argentina, dan melakukan perjalanan langsung ke Arc de Triomphe untuk menyaksikan langung kerusakan di monumen terkenal di dekat Istana Elysee-nya.
Arteta Tegaskan Arsenal Incar Kemenangan Lawan Manchester City
Carrick Puji Insting Gol Casemiro, Sebut Punya Indra Keenam
Cedera Kronis, De Ligt Terancam Absen hingga Akhir Musim
Para pengunjuk rasa merusak beberapa patung dan yang lain menyemprotkan gambar yang bertuliskan"Jaket Kuning Akan Menang," yang merujuk pada nama kelompok yang diorganisir dibelakang demonstrasi tersebut.
"Tidak mungkin bahwa setiap akhir pekan menjadi pertemuan atau ritual untuk kekerasan," kata juru bicara pemerintah Benjamin Griveaux, dilansir UPI.
Ia mengatakan kepada radio Eropa 1, pemerintah sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan keadaan darurat.
Kementerian Dalam Negeri Prancis menyalahkan ekstrimis atas kekerasan di monumen terkenal itu, menunjukkan bahwa sekitar 5.000 demonstran damai, beberapa yang memegang mawar, telah berbaris di dekat Champs-Elysees.
Perdana Menteri Phillipe membuat perbedaan antara demonstran yang damai dan yang melanggar hukum. "Kami melekat pada kebebasan berekspresi, tetapi juga menghormati hukum," katanya.