Rabu, 14/11/2018 08:10 WIB
Yerusalem – Kelompok militan Palestina di Jalur Gaza dibantu Mesir, mengumumkan gencata senjata dengan Israel pada Selasa (13/11) malam, setelah eskalasi kekerasan terus meningkat dan terancam terjadi perang penuh.
Kelompok-kelompok tersebut, termasuk Hamas, mengatakan dalam sebuah pernyataan akan mematuhi gencatan senjata, selama Israel melakukan hal yang sama.
Sementara Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan militer belum mengomentari pengumuman tersebut. Hanya saja, Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman sudah terlebih dulu mengatakan enggan menuruti permintaan militan Palestina.
“Upaya Mesir telah mampu mencapai gencatan senjata antara perlawanan dan musuh Zionis,” demikian pernyataan kelompok Gaza.
Israel Selidiki Foto Tentara IDF Hancurkan Patung Yesus di Lebanon
23.000 Lebih Warga Palestina di Tepi Barat Ditangkap Zionis Israel
Hizbullah Beri Lima Syarat Gencatan Senjata dengan Israel
“Kami akan menghormati deklaras ini selama Zionis (Israel, red) menghormatinya,” imbuhunya.
Sebelumnya, Mesir menyerukan Israel agar menghentikan aksi militer di Jalur Gaza. Dewan Keamanan PBB juga akan menggelar pertemuan pertutup untuk membahas kekerasan terbaru di Gaza.
“Situasi tetap genting dan bisa meledak lagi. Apa yang telah kami lihat selama 48 jam terakhir, sangat berbahaya dan tidak ada upaya yang harus dihindari,” ungkap seorang sumber dilansir dari AFP.
Eskalasi yang terjadi selama dua hari terakhir merupakan yang terburuk sejak perang pada 2014 lalu. setidaknya tujuh warga Palestina tewas dalam 24 jam, pasca Israel mengirim bol api.
Sementara sirene meraung di Israel selatan, dan puluhan ribu orang berlindung di tempat penampungan sementara, setelah 460 roket dan mortir ditembakkan dari Gaza yang berakibat 27 orang luka-luka, tiga di antaranya cukup parah.