Senin, 02/07/2018 12:38 WIB
Jakarta - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi bergerak melemah 5 poin menjadi Rp14.335 dibanding posisi sebelumnya Rp14.330 per dolar AS.
"Pelaku pasar masih mencermati perkembangan dari potensi terjadinya perang dagang antara AS dan Tiongkok sehingga permintaan akan mata uang "safe haven" masih lebih besar," kata analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Senin.
Reza menuturkan, pelaku pasar tengah menantikan sentimen dari dalam negeri terutama rilis data-data ekonomi di awal bulan.
Dari dalam negeri sendiri memang belum ada sentimen terbarukan selain dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia yang memang ditunggu pelaku pasar.
KPK Periksa 2 Petinggi Bank Indonesia Terkait Korupsi Dana CSR
Komisi XI Desak BI Fokus Prioritaskan Pembiayaan UMKM
PIHPS Catat Harga Cabai Rawit Tembus Rp85.750 per Kilo
Adanya pernyataan Menko Perekonomian, Darmin Nasution, bahwa kenaikan tersebut mengikuti perkembangan global yang ada dan antisipasi terjadinya "capital outflow" cukup direspon positif.
"Di sisi lain, pergerakan Euro yang menguat setelah adanya kesepakatan terkait imigran turut diharapkan berimbas positif pada pergerakan Rupiah," ujar Reza seperti dilansir Antara.
Sebelumnya, meski laju suku bunga acuan telah dinaikan sebesar 50 basis poin atau sesuai dengan keinginan pasar untuk meredam pelemahan Rupiah lebih dala, namun tidak banyak berimbas pada pergerakan Rupiah yang hanya naik tipis.
Adapun Rupiah diestimasikan akan bergerak dengan kisaran `support` Rp14.368 per dolar AS dan resisten Rp14.295 per dolar AS.
Keyword : Inflasi rupiah Bank Indonesia