Kebijakan Ekonomi Mesir Dinilai Sengsarakan Rakyat

Senin, 18/06/2018 07:18 WIB

Kairo - Sekelompok anggota parlemen Mesir mengkritik reformasi fisikal baru-baru ini diberlakukan pemerintahan Presiden Abdel Fattah al-Sisi, terutama pemotongan subsidi untuk bahan bakar dan listrik.

Aliansi 25-30, blok dari sejumlah kecil anggota parlemen oposisi, menuntut agar Sisi membatalkan kebijakan yang dapat merugikan kelas bawah dan menengah.

Pekan ini, Mesir mengumumkan kenaikan harga bahan bakar dan listrik usai memotong subsidi, yang merupakan rangkaian terakhir dari upaya penghematan ekonomi yang didukung oleh Dana Moneter Internasional sebagai bagian dari paket pinjaman USD12 miliar ke Kairo.

Reformasi fiskal, yang dimulai dengan devaluasi mata uang yang curam pada akhir 2016, berhasil meningkatkan indikator ekonomi seperti pertumbuhan PDB, tetapi pada saat yang sama banyak warga Mesir semakin terpuruk.

Dikutip dari Reuters, ada yang tak biasa di pemerintahan Sisi, bulan lalu,  aksi unjuk rasa yang tak biasa meletus karena meningkatnya tarif pada sistem metro Kairo, namun pekan ini dipastikan tidak ada demonstrasi meski  bahan bakar dan listrik jauh lebih mahal.

Untuk diketaui, Mesir sedang berupaya menghidupkan kembali ekonominya, yang dilanda kerusuhan menyusul pemberontakan pada 2011 yang menggulingkan pemimpin lama Hosni Mubarak.

TERKINI
Hari Konsumen Nasional Diperingati 20 April, Ini Sejarah hingga Tujuannya 20 April 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini Liam Delap: Chelsea Tak Pantas Kalah dari Manchester United Caicedo: Chesea Belum Menyerah Kejar Tiket Liga Champions