Sabtu, 12/05/2018 13:10 WIB
Jakarta - Setelah pertemuan antara perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Vladimir Putin, Jumat (11/05), Rusia memutuskan untuk membatalkan rencana untuk mengirim sistem pertahanan udara S-300 ke Suriah.
Bulan lalu, Rusia mengisyaratkan itu mungkin memasok bahan persenjataan ke rezim Suriah. Namun hal itu gagal dilakukan lantaran takut menjadi bencana untuk Suriah.
Juru bicara Rusia, Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa sebenarnya negaranya tidak pernah ada rencana resmi untuk melengkapi Suriah dengan sistem pertahanan mereka demi alasan keamanan.
"Kami tidak membahas pengiriman sistem baru yang canggih, apalagi militer Suriah sudah memiliki semua yang dibutuhkannya," katanya.
Bom Rakitan Meledak di Kafe, Puluhan Orang Jadi Korban
Parlemen Israel Setujui RUU Larangan Azan dengan Pengeras Suara
Palestina Tolak Upaya AS Lemahkan Mandat UNRWA
Israel menjadi prihatin tentang kemungkinan kedatangan sistem pertahanan baru di Suriah setelah gelombang serangan udara di Suriah oleh pesawat tempur Prancis, Inggris dan AS pada bulan April.
Serangan udara itu adalah pembalasan atas dugaan serangan senjata kimia yang dilakukan oleh pemerintah Suriah kepada warga sipil.
Israel khawatir instalasi sistem pertahanan bisa mengganggu keseimbangan kekuasaan di Suriah dan bisa membuat penetrasi pesawat Israel menjadi lebih sulit.
Jalur pasokan di Suriah, diawaki terutama oleh tentara Iran, sering menjadi sasaran serangan udara Israel. Serangan besar terjadi Rabu dan Kamis setelah pasukan Suriah menembakkan rentetan rudal ke Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Israel.
Dilansir Times, kehadiran sistem S-300 dapat mempersulit upaya Israel untuk mempertahankan keamanan nasional.
Keyword : Israel Rusia Suriah Sistem S-300