Senin, 19/03/2018 11:19 WIB
Jakarta - Kampanye pembersihan Gunung Everest dimulai Sabtu, 17 Maret kemarin. Tujuan kampanye tersebut ialah mengangkut 100 ton sampah yang ditinggalkan oleh wisatawan dan para pendaki.
Pada hari pertama, 1.200 kilogram sampah terangkut. Limbah di gunung tertinggi sedunia itu dibawa dari Bandara Lukla ke Kathmandu untuk selanjutnya didaur ulang.
Dilansir dari BBC, kampanye bersih tahun ini difokuskan pada barang-barang yang bisa didaur ulang. Termasuk botol bir kosong, kaleng, makanan kosong, dan peralatan pendakian yang dibuang sembarangan.
Menurut Komite Kontrol Pencemaran Sagarmantha (SPCC), lebih dari 100 ribu orang naik ke Gunung Everest tahun lalu. 40 ribu ai antaranya ialah pendaki gunung atau trekker.
Ilmuwan Kembangkan Sistem Daur Ulang Sampah untuk Misi Luar Angkasa
Pemerintah Dorong Teknologi Pirolisis untuk Olah Sampah jadi Energi Listrik
Hanya dengan Satu Kaki, Seorang Pendaki Berhasil Naik Gunung Merbabu
Karena saking banyaknya pendaki, SPCC dan pemandu lokal harus berurusan dengan limbah biologis yang ditinggalkan. Di antaranya kotoran manusia yang mengancam kesehatan ekosistem. Karena itu, SPCC membangun toilet portabel di sekitar kamp gunung utama.
Tingginya jumlah pendaki juga meningkatkan risiko keamanan. Kekhawatiran itu menyebabkan munculnya regulasi soal larangan mendaki secara solo, dan memaksa pendaki asing pergi bersama dengan pemandu lokal.
Keyword : Gunung Everest Pendaki Sampah