Selasa, 15/07/2025 21:27 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Bullying atau perundungan di sekolah bukan sekadar konflik anak-anak. Ia bisa meninggalkan luka psikologis jangka panjang, baik bagi korban maupun pelaku. Di Indonesia, kasus perundungan di lingkungan pendidikan masih terus terjadi, dan peran keluarga sangat vital dalam upaya pencegahannya.
Berikut lima strategi efektif yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak menghindari bullying — sebagai korban maupun pelaku:
1. Ajarkan Empati Sejak DiniAnak yang mampu merasakan emosi orang lain cenderung tidak melakukan perundungan. Orang tua dapat mengajarkan empati melalui cerita, diskusi, dan memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari. Tanyakan, "Bagaimana perasaan temanmu jika itu terjadi padanya?" untuk menumbuhkan kepekaan sosial.
2. Bangun Komunikasi Dua ArahBanyak anak enggan bercerita soal pengalaman buruk di sekolah. Buatlah rutinitas ngobrol santai setiap hari — bukan sekadar tanya nilai — tapi gali juga pengalaman emosional mereka. Anak yang merasa didengar akan lebih terbuka dan lebih siap menghadapi tekanan sosial.
3. Latih Anak Mengelola EmosiAnak yang mudah marah atau frustrasi lebih rentan menjadi pelaku bullying. Ajari teknik mengatur emosi, seperti menarik napas dalam, berhitung sebelum bereaksi, atau menulis jurnal. Kelas seni, musik, atau olahraga juga efektif membantu mereka menyalurkan energi secara positif.
4. Ajari Anak Menolak dengan TegasAnak perlu tahu bahwa mereka berhak mengatakan “tidak” terhadap perilaku yang menyakiti. Latih anak untuk berbicara tegas dan mencari bantuan dari guru atau orang dewasa ketika dibutuhkan. Keberanian ini bukan tanda kelemahan, tapi perlindungan diri.
5. Bekerja Sama dengan SekolahOrang tua bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab. Pastikan sekolah memiliki kebijakan anti-bullying yang jelas, ruang konseling yang aman, dan guru yang terlatih dalam mendeteksi tanda-tanda perundungan. Jangan ragu berdialog dengan pihak sekolah jika ada indikasi masalah.
Mencegah bullying bukan pekerjaan semalam. Dibutuhkan perhatian terus-menerus dari orang tua, guru, dan lingkungan sekitar. Anak yang tumbuh dalam lingkungan suportif cenderung lebih percaya diri dan menghargai orang lain. Dan di situlah, upaya pencegahan bullying bisa benar-benar dimulai. (*)