Minggu, 06/07/2025 20:27 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Sepak bola modern sering dipenuhi dominasi investor besar dan konglomerat global. Namun, di tengah arus kapitalisasi itu, sejumlah klub tetap mempertahankan semangat komunitas dengan membiarkan suporter mengelola klub secara langsung.
Bagi sebagian orang, model ini bukan hanya utopis, tapi sudah terbukti membawa stabilitas, loyalitas, bahkan kesuksesan di lapangan.
Ini merupakan klub yang lahir dari protes suporter terhadap pemindahan Wimbledon FC ke Milton Keynes. Melalui The Dons Trust, para pendukung mengelola klub dari nol hingga berhasil promosi ke Football League. Mereka bahkan membangun stadion Plough Lane hasil patungan masyarakat.
2. FC United of ManchesterFC United of Manchester dibentuk oleh fans Manchester United yang menolak akuisisi oleh keluarga Glazer. Klub ini menggunakan sistem demokratis satu orang satu suara, membuktikan bahwa suara fans bisa menjadi landasan manajemen yang sehat. FC United kini memiliki stadion sendiri dan beroperasi mandiri.
Kocak, Pemain Ini Dikartu Merah gegara Pipis di Botol
7 Fakta Unik Chelsea, Raja London yang Nyaris Bangkrut
Kuda Hitam, Sejak Kapan Istilah Ini Digunakan Sepak Bola?
Di luar Inggris, Exeter City dan Hereford FC juga menunjukkan keberhasilan model fan-ownership. Exeter dijalankan oleh Supporters’ Trust sejak 2003, dan sejak itu tidak pernah mengalami krisis finansial besar. Mereka bahkan sempat promosi ke League One dan mencatat laba secara konsisten.
4. BundesligaJerman menerapkan sistem ketat 50+1, yang mengharuskan mayoritas hak suara dipegang oleh anggota klub. Ini membuat klub-klub besar seperti Borussia Dortmund dan Bayern Munich tetap dikendalikan komunitas, meskipun ada sponsor besar.
Klub asal Prancis ini mengadopsi struktur koperasi sejak krisis keuangan pada 2017. Suporter lokal bekerja sama dengan lembaga komunitas untuk menyelamatkan klub dan kini berhasil kembali bersaing di kompetisi nasional.
6. St MirrenDi Skotlandia, St Mirren menjadi klub profesional pertama yang sepenuhnya dimiliki fans pada 2021. Mereka menggunakan sistem trust dan menggandeng lembaga sosial untuk memastikan operasional klub tetap inklusif dan berkelanjutan. Model seperti ini juga menyebar ke negara-negara lain.