Jum'at, 04/07/2025 16:15 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Bulan Muharram bukan hanya penanda awal tahun baru Islam, tapi juga momen reflektif yang kaya makna spiritual. Di berbagai daerah Indonesia, masyarakat memperingatinya dengan beragam kuliner tradisional.
Ragam kuliner tersebut di antaranya ialah disajikan sebagai bentuk syukur atas keselamatan, solidaritas sosial, hingga mengenang peristiwa tragedi Karbala pada 10 Muharram (Asyura), ketika cucu Nabi Muhammad SAW, Husain bin Ali, wafat di padang Karbala.
Berikut delapan kuliner khas Muharram yang hidup dalam tradisi masyarakat Indonesia, yang dirangkum dari berbagai sumber.
1. Bubur SuroBeras santan dimasak dengan sayuran dan lauk sederhana. Masyarakat Jawa dan Madura membuatnya di awal Muharram sebagai bentuk syukur atas keselamatan, terinspirasi dari kisah Nabi Nuh AS. Disajikan secara massal dan dibagikan kepada tetangga.
Polisi Austria Temukan Kandungan Racun Tikus di Bubur Bayi Instan
Berbagai Makanan Tinggi Serat yang Baik untuk Kesehatan Pencernaan
8 Jenis Makanan yang Bisa Mempercepat Osteoporosis
Versi Madura dari bubur Suro, disajikan dengan topping meriah: suwiran ayam, telur dadar, kacang, dan kuah kental. Khasnya: tradisi "ter-ater" (saling antar) yang menguatkan silaturahmi antarwarga.
3. Bubur Asyura / Kanji AsyuraDibuat dari campuran puluhan bahan seperti biji-bijian, sayur, rempah, dan santan. Di Banjar, bahkan terdiri dari 41 bahan. Biasanya dimasak bersama oleh warga dan dibagikan ke masyarakat pada atau menjelang 10 Muharram sebagai bentuk solidaritas sosial.
Tradisi unik di Desa Namalean, Maluku. Bubur ini dibuat khusus oleh para perempuan dan dibagikan setelah pembacaan doa Asyura. Dikenal sebagai simbol duka mengenang wafatnya Sayyidina Husain di Karbala.
5. Tumpeng MuharramTumpeng nasi kuning atau putih sering diarak atau dibagikan saat peringatan 1 dan 10 Muharram. Hadir dalam acara seperti: Kirab 1.000 Tumpeng (Magelang); Pawai Tumpeng Massal (Kediri); Doa Bersama & Sedekah Tumpeng (Bojonegoro).
Bentuk kerucutnya melambangkan penghambaan, lauknya simbol rezeki dan harapan baik di tahun baru Islam.
6. Apem MuharramKue dari tepung beras, santan, dan gula merah. Dibagikan dalam acara syukuran awal Muharram. Dalam tradisi Jawa, apem bermakna "maaf" atau permohonan ampun dan sering hadir dalam ritual doa bersama.
7. Ambengan MuharramDi beberapa wilayah Bantul dan sekitarnya, masyarakat mengadakan ambengan—makan bersama dari satu bakul besar. Digelar pada 10 Muharram, sering dirangkai dengan santunan anak yatim dan pengajian malam Asyura.
8. Bubur Asyura PenyengatTradisi di Pulau Penyengat: bubur berisi aneka biji-bijian dan daging dimasak sambil dibacakan doa barzanji. Disajikan kepada jamaah setelah acara zikir menjelang 10 Muharram. (*)