Jum'at, 06/06/2025 13:13 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Dalam tradisi Buddhisme, penampilan biksu memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar tampilan fisik.
Salah satu ciri khas yang paling mencolok adalah kepala botak yang mereka miliki, sebuah simbol pelepasan dari keterikatan duniawi.
Mencukur rambut hingga botak adalah praktik yang umum dilakukan oleh para biksu Buddha, yang melambangkan pengabaian terhadap penampilan fisik dan keinginan duniawi.
Kepala botak ini juga mengingatkan kita pada perjalanan hidup Buddha Gotama, yang setelah meninggalkan kehidupan istana, memotong rambutnya sebagai tanda komitmen untuk mengejar jalan spiritual.
Menag Ajak Umat Buddha Tebar Kebajikan hingga Jaga Perdamaian Dunia
Tujuh Tradisi Perayaan Waisak di Dunia: Mulai dari Indonesia hingga India
Peringatan Hari Raya Waisak 2026, Ini Sejarah hingga Maknanya
Tindakan ini menjadi simbol kesederhanaan dan penolakan terhadap ego serta kesombongan yang mungkin timbul dari penampilan luar.
Selain itu, jubah berwarna oranye, atau kasaya, yang dikenakan para biksu juga memegang simbolisme yang kuat. Warna oranye dipilih karena melambangkan api, yang dalam konteks spiritual mencerminkan pencerahan dan transformasi.
Warna ini juga menunjukkan kesederhanaan serta penolakan terhadap kemewahan duniawi. Dalam tradisi Buddhisme Theravada, terutama di negara-negara seperti Thailand dan Sri Lanka, jubah oranye menjadi identitas khas yang menegaskan fokus mereka pada pengembangan batin dan disiplin spiritual, serta pengingat untuk menjauhkan diri dari godaan dunia.
Keyword : BuddhaBiksuKepala Botak