Kamis, 29/05/2025 15:23 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Apa yang membuat sebagian orang tetap sehat hingga usia 100 tahun lebih? Jawabannya bukan satu, tapi kombinasi dari faktor genetik, pola makan, gaya hidup, hingga mikroba dalam usus.
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam Frontiers of Medicine mengungkap bagaimana orang-orang yang berumur panjang—dikenal juga sebagai centenarians—bisa menghindari penyakit kronis dan tetap aktif secara fisik maupun mental hingga usia senja.
“Penuaan sehat dan umur panjang manusia adalah hasil dari interaksi kompleks antara gen, epigenetik, metabolisme, sistem imun, dan lingkungan,” ujar peneliti utama, Fan-Qian Yin, dari Higher Education Press.
Genetik Bukan Segalanya, Tapi PentingBeberapa orang mewarisi varian gen pelindung seperti APOE e2, yang dikenal menurunkan risiko penyakit jantung. Namun, para peneliti menegaskan bahwa gen hanyalah sebagian dari cerita.
Ilmuwan Duga Bakteri Usus Mampu Bikin Manusia Berumur Panjang
Rahasia Olahraga untuk Umur Panjang Ternyata Bukan Soal Durasi
Tak Perlu Hindari Daging untuk Hidup hingga 100 Tahun, Syaratnya Ini
Proses seperti metilasi DNA—yang membantu mengatur aktivitas gen tanpa mengubah struktur DNA—berjalan lebih lambat pada orang tua yang tetap sehat. Ini diyakini membantu melindungi sel dari kerusakan dan memperlambat proses penuaan.
Usus Sehat, Umur Panjang?Gut microbiome atau mikrobiota usus menjadi sorotan dalam studi ini. Orang yang berumur panjang cenderung memiliki lebih banyak bakteri baik seperti Akkermansia muciniphila, yang menjaga lapisan usus tetap kuat dan mengurangi peradangan.
Bakteri ini tumbuh subur pada makanan tinggi serat dan fermentasi—seperti tempe, yogurt, dan sayuran hijau. Ini memperkuat teori bahwa “kesehatan dimulai dari usus” bukan sekadar slogan.
Hormonal dan Gender: Wanita Lebih Banyak, Pria Lebih Tangguh?Mayoritas centenarian adalah wanita. Namun, pria yang berhasil mencapai usia 100 tahun cenderung memiliki kesehatan lebih baik dan lebih sedikit penyakit kronis. Ini bisa jadi terkait dengan keseimbangan hormon seperti estradiol pada wanita dan testosteron pada pria.
Orang-orang yang hidup lebih lama cenderung tidur lebih nyenyak dan memiliki cara efektif mengelola stres. Tidur berkualitas 7–8 jam per malam membantu regenerasi tubuh dan memperkuat memori.
Sebaliknya, stres kronis yang meningkatkan hormon kortisol terbukti mempercepat penuaan dan merusak sistem imun.
Makan Sederhana dan Bergerak AktifPola makan yang kaya buah, sayur, dan biji-bijian terbukti menjaga kadar kolesterol dan gula darah tetap stabil. Banyak dari mereka juga menjalani aktivitas fisik ringan namun konsisten seperti berjalan kaki, berkebun, atau latihan kekuatan ringan.
Menariknya, sebagian besar centenarian juga mengonsumsi kalori dalam jumlah sedang, yang bisa menurunkan peradangan dan meningkatkan fungsi metabolik.
Imun yang Seimbang = Umur Lebih PanjangOrang berumur panjang atau centenarian punya sistem imun yang tetap aktif namun tidak berlebihan. Mereka punya kadar IL-6 (pemicu inflamasi) yang rendah, dan kadar IL-10 serta TGF-beta (anti-inflamasi) yang tinggi. Kombinasi ini menjaga tubuh tetap waspada, tapi tidak menyerang dirinya sendiri.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?Walau genetik memberi keuntungan, pilihan gaya hidup tetap jadi penentu utama. Para peneliti kini menjajaki cara untuk menerapkan prinsip penuaan sehat ini lebih luas—dari terapi mikrobioma, penggunaan obat seperti metformin, hingga intervensi genetik dan epigenetik.
Penemuan-penemuan ini membuka jalan bagi penuaan yang lebih sehat dan bermakna, bukan sekadar hidup lebih lama.
Dengan demikian, usia panjang bukanlah soal keberuntungan semata. Kombinasi antara gen baik, pola makan seimbang, tidur berkualitas, manajemen stres, dan aktivitas fisik teratur terbukti jadi fondasi kuat bagi kehidupan yang sehat hingga usia 100 tahun ke atas. (*)
Sumber: earth.com