Pemerintah Diminta Segera Negosiasi dengan AS

Jum'at, 04/04/2025 14:32 WIB

Jakarta, Jurnas.com -  Pemerintah diminta segera memulai negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) yang telah menerapkan secara sepihak besaran tarif impor. Besaran tarif tersebut tak sesuai dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

"Bisa saja Indonesia memulai pembahasan kemungkinan impor gas alam cair dari Amerika Serikat, di mana saat ini industri keramik nasional mengalami gangguan suplai gas dan mahalnya harga regasifikasi gas," kata Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto dalam keterangannya, Jumat (4/4).

Menurut dia, atensi pemerintah untuk melakukan perlindungan terhadap industri domestik sangat penting. Sebab, adanya potensi pengalihan ekspor produk-produk negara lain yang tidak bisa tembus ke pasar AS setelah penerapan tarif resiprokal.

Asaki mengkhawatirkan, adanya banjir produk keramik dari India, mengingat negara tersebut selama ini menjadi eksportir keramik terbesar di AS setelah keramik dari China dikenakan tarif antidumping 200-400 persen.

"Untuk itu Asaki akan mempersiapkan segera pengajuan antidumping untuk keramik dari India yang naik signifikan dari tahun ke tahun sebesar ratusan persen," ujarnya.

Edy juga menilai, sertifikasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dan program 3 juta rumah, bisa melindungi pasar keramik domestik. Dengan program dan kebijakan sertifikasi tersebut akan secara langsung membuat permintaan keramik dalam negeri terjaga dari dampak kebijakan tarif AS.

Dia mengharapkan pemerintah konsisten mendorong penerapan alokasi belanja kementerian/lembaga melalui Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), serta meminta program 3 juta rumah dijalankan, karena turut memacu sektor ubin keramik, sanitary ware, dan genteng keramik.

Melalui sertifikasi TKDN yang telah terbukti efektif membantu penyerapan produk dalam negeri bagi industri keramik nasional. Selain itu Asaki mendesak Pemerintah Prabowo segera menjalankan program 3 juta rumah yang akan memberikan banyak multiplier effect bagi industri-industri bahan bangunan," tandasnya.

TERKINI
BMKG Umumkan Kemarau 2026 Lebih Kering Dibanding Rata-rata Selama 30 Tahun Komisi X DPR Akan Panggil Rektor UI Terkait Dugaan Pelecehan Mahasiswa Studi Terbaru Ungkap Emisi Metana Kota Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan JD Vance Mungkin Pimpin Lagi AS dalam Negosiasi Kedua dengan Iran