Jum'at, 10/01/2025 07:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Sulit bangun pagi sering dialami anak-anak dan remaja, meskipun mereka sudah tidur cukup. Apakah ini sekadar kebiasaan buruk, atau ada alasan biologis di baliknya?
Ternyata, sulit bangun pagi bukan semata karena malas, melainkan berkaitan erat dengan ritme biologis tubuh. Berikut adalah alasan ilmiah mengapa anak-anak dan remaja lebih sulit bangun pagi dibanding orang dewasa.
Setiap manusia memiliki ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengatur siklus tidur dan bangun. Pada anak-anak dan remaja, ritme ini secara alami lebih lambat dibandingkan orang dewasa, membuat mereka merasa mengantuk lebih larut dan sulit bangun pagi.
Jika orang dewasa secara alami mulai mengantuk sekitar pukul 9–10 malam, anak-anak dan remaja sering baru merasa lelah sekitar pukul 11 malam atau lebih. Hal ini membuat mereka tetap membutuhkan waktu tidur tambahan di pagi hari.
Hindari Minum Teh saat Bangun Pagi, Ini Risikonya untuk Lambung
Apa yang Terjadi pada Tubuh Jika Anda Sering Melewatkan Sarapan?
Rutin Konsumsi Omega-3 Bantu Perlambat Penuaan pada Lansia
Hormon melatonin, yang bertanggung jawab membuat tubuh mengantuk, diproduksi lebih lambat pada anak dan remaja dibanding orang dewasa. Akibatnya, meskipun mereka berusaha tidur lebih awal, tubuh mereka belum siap untuk beristirahat.
Melatonin pada remaja baru mulai meningkat sekitar pukul 10 malam, sementara pada orang dewasa lebih awal. Itulah sebabnya mereka cenderung sulit tidur lebih cepat dan akhirnya kesulitan bangun di pagi hari.
Anak-anak dan remaja membutuhkan 8–10 jam tidur per malam agar tubuh dan otak mereka berkembang optimal. Namun, jadwal sekolah yang dimulai pagi sering kali membuat mereka kurang tidur.
Jika mereka tidur pukul 11 malam dan harus bangun pukul 5 atau 6 pagi, mereka hanya mendapatkan sekitar 6–7 jam tidur, yang sebenarnya masih kurang untuk kebutuhan biologis mereka.
Paparan cahaya alami di pagi hari sangat penting untuk membantu tubuh menyesuaikan ritme biologis. Namun, banyak anak yang jarang terkena cahaya matahari pagi, terutama jika mereka terbiasa bangun dalam keadaan masih gelap atau langsung beraktivitas di dalam ruangan.
Tanpa cahaya matahari, tubuh tetap memproduksi melatonin lebih lama, menyebabkan kantuk yang berkepanjangan dan membuat mereka sulit merasa segar saat bangun pagi.
5. Efek Penggunaan Gadget Sebelum TidurBanyak anak dan remaja yang menggunakan ponsel, tablet, atau komputer sebelum tidur. Cahaya biru dari layar gadget dapat menekan produksi melatonin, sehingga otak tetap aktif dan sulit merasa mengantuk.
Akibatnya, mereka tidur lebih larut dari seharusnya, dan saat pagi tiba, mereka masih berada dalam fase tidur yang dalam, sehingga sulit untuk bangun dengan segar.
6. Siklus Tidur yang Belum StabilPada usia anak-anak dan remaja, siklus tidur belum seimbang seperti pada orang dewasa. Mereka lebih sering mengalami fase tidur dalam yang lebih panjang, sehingga saat dibangunkan di pagi hari, tubuh mereka masih berada dalam kondisi istirahat yang mendalam.
Kesulitan bangun pagi bukan hanya soal kebiasaan, tetapi juga berkaitan dengan faktor biologis seperti perubahan jam tidur, produksi melatonin yang lebih lambat, dan kebutuhan tidur yang lebih lama.
Beberapa cara untuk membantu pola tidur yang lebih baik antara lain: Mengurangi penggunaan gadget sebelum tidur, meningkatkan paparan cahaya matahari pagi, menyesuaikan jadwal tidur secara bertahap.