Apa yang Terjadi Jika Bumi Tiba-Tiba Berhenti Berputar?

Senin, 05/10/2026 11:50 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Bayangkan Bumi tiba-tiba berhenti berputar. Tanah memang berhenti, tetapi manusia, atmosfer, lautan, bangunan, dan berbagai benda di permukaannya tidak serta-merta kehilangan gerak.

Skenario tersebut akan menyerupai kecelakaan mobil dalam skala planet. Bedanya, kecepatannya jauh lebih besar dan dampaknya mencakup hampir seluruh permukaan Bumi.

Skenario Bumi berhenti berputar tidak mungkin terjadi dalam kondisi nyata. Namun, gambaran ekstrem ini menunjukkan betapa pentingnya rotasi Bumi yang selama ini tidak terasa meski kita sebenarnya terus bergerak dengan kecepatan sangat tinggi.

Bumi bergerak lebih dari 1.600 km per jam

Di sekitar garis khatulistiwa, sebuah titik di permukaan Bumi bergerak dengan kecepatan sekitar 1.668 kilometer per jam akibat rotasi planet.

Kecepatan tersebut semakin berkurang ketika bergerak menuju lintang yang lebih tinggi. Secara sederhana, kecepatannya dapat dihitung dengan mengalikan 1.036 mil per jam dengan kosinus garis lintang.

New York, misalnya, berada pada kecepatan rotasi sekitar 790 mil per jam atau 1.270 kilometer per jam. Sementara itu, kecepatannya turun menjadi nol tepat di kutub.

Artinya, jika Bumi secara ajaib berhenti berputar dalam sekejap, orang yang berada tepat di Kutub Utara menjadi satu-satunya orang yang tidak mengalami efek lontaran akibat gerak rotasi secara horizontal.

Fenomena tersebut pada dasarnya sama dengan apa yang terjadi ketika sebuah mobil yang melaju tiba-tiba berhenti. Tubuh penumpang masih memiliki kecepatan sehingga cenderung terus bergerak ke depan. Itulah salah satu alasan sabuk pengaman dibutuhkan.

Kita tidak merasakan kecepatan konstan karena tubuh lebih peka terhadap perubahan kecepatan atau percepatan dan perlambatan. Karena itu, rotasi Bumi yang berlangsung terus-menerus terasa seperti kondisi diam.

Angin bisa melaju lebih dari 1.000 mil per jam

Jika permukaan Bumi berhenti secara mendadak, atmosfer tidak akan langsung ikut berhenti. Udara akan terus bergerak dengan kecepatan yang sebelumnya ditentukan oleh rotasi Bumi di setiap garis lintang. Di khatulistiwa, kecepatannya bisa mencapai lebih dari 1.000 mil per jam.

Sebagai perbandingan, hembusan angin permukaan terkuat yang pernah tercatat mencapai 253 mil per jam di Barrow Island, Australia, ketika Siklon Olivia pada 1996.

Gaya yang dihasilkan angin meningkat mengikuti kuadrat kecepatannya. Dengan demikian, angin berkecepatan 1.000 mil per jam membawa gaya sekitar 16 kali lebih besar dibanding hembusan 253 mil per jam tersebut dan sekitar 175 kali lebih besar dibanding hembusan 75 mil per jam yang sudah mampu merusak atap rumah.

Hampir semua struktur akan gagal menghadapi kondisi tersebut. Benda-benda yang tidak tertambat kuat dapat terlempar, sementara permukaan tanah sendiri akan mengalami tekanan ekstrem hingga retak dan berubah.

Lautan juga tidak akan berhenti

Bukan hanya atmosfer yang terus bergerak. Lautan akan mengalami hal serupa. Ketika dasar laut berhenti bersama permukaan Bumi, massa air masih memiliki momentum akibat rotasi sebelumnya. Air laut akan terus bergerak mengikuti kecepatan di garis lintangnya dan menyapu wilayah pesisir hingga jauh ke daratan.

Dalam skenario tersebut, banjir laut tidak lagi sekadar menjadi persoalan pesisir. Pergerakan air dalam skala planet akan menjadi salah satu konsekuensi terbesar dari berhentinya rotasi Bumi secara tiba-tiba.

Bentuk Bumi ikut berubah

Dampak lainnya tidak terjadi seketika, tetapi akan berlangsung setelah kehancuran awal. Bumi bukan bola sempurna. Planet ini berbentuk sferoid pepat, yakni sedikit lebih lebar di sekitar khatulistiwa dibandingkan jarak dari kutub ke kutub.

Tonjolan di sekitar khatulistiwa tersebut berkaitan dengan rotasi Bumi. Jika rotasi menghilang, tonjolan itu tidak lagi dipertahankan oleh efek rotasi sehingga planet secara perlahan akan bergerak menuju bentuk yang lebih mendekati bola.

Perubahan bentuk tersebut juga akan membuat air laut bermigrasi menuju wilayah kutub. Aktivitas vulkanik di seluruh dunia juga termasuk dalam rangkaian konsekuensi ekstrem dari skenario tersebut.

Dengan kata lain, hanya dengan menghilangkan rotasi Bumi, dunia dapat berubah secara drastis tanpa membutuhkan tabrakan asteroid atau ledakan raksasa.

Faktanya, rotasi Bumi justru sedang berubah

Meski skenario Bumi berhenti berputar terdengar mengerikan, kondisi sebenarnya sangat berbeda. Rotasi Bumi memang tidak sepenuhnya konstan. Pengukuran menggunakan jam atom sejak 1950-an menunjukkan bahwa panjang hari dapat berubah.

Dalam jangka panjang, rotasi Bumi cenderung melambat akibat gesekan pasang surut yang dipengaruhi Bulan. Proses tersebut membuat panjang hari bertambah sekitar 1,8 milidetik setiap abad.

Namun, sejak sekitar 2016 hingga 2018, tren tersebut berbalik. Bumi justru mengalami peningkatan kecepatan rotasi.

Tahun 2024 dan 2025 mencatat sejumlah hari terpendek sejak era pengukuran menggunakan jam atom. Salah satu penjelasan utama yang dikemukakan adalah perubahan pada inti luar Bumi yang berbentuk cair.

Ketika inti tersebut melambat, lapisan padat bagian luar Bumi dapat berputar lebih cepat sebagai konsekuensi dari hukum kekekalan momentum sudut. Mekanismenya mirip dengan seorang atlet seluncur yang berputar lebih cepat ketika menarik kedua tangannya mendekati tubuh.

Mengapa pernah ada 27 leap second?

Perubahan kecil pada rotasi Bumi juga berkaitan dengan leap second, yakni penyesuaian waktu untuk menyelaraskan waktu atom dengan rotasi aktual Bumi.

Sejak sistem tersebut mulai digunakan pada 1972, sebanyak 27 leap second telah ditambahkan. Semuanya merupakan penambahan satu detik, bukan pengurangan.

Leap second terakhir ditambahkan pada 31 Desember 2016. Pada dekade 1970-an saja, sembilan leap second ditambahkan, sedangkan dalam satu dekade terakhir tidak ada penambahan.

Perubahan pola rotasi kemudian memunculkan kemungkinan yang sebelumnya belum pernah terjadi: negative leap second, yakni pengurangan satu detik dari sistem waktu.

Es yang mencair justru memperlambat rotasi

Ahli geofisika Duncan Agnew dari Scripps Institution of Oceanography menghitung dalam makalah yang diterbitkan di Nature pada 2024 bahwa negative leap second mungkin diperlukan sekitar 2029.

Ada faktor yang membuat kebutuhan tersebut tidak muncul lebih cepat. Pencairan es di wilayah kutub memindahkan massa dari kutub menuju tonjolan khatulistiwa sehingga sedikit memperlambat rotasi Bumi.

Efek tersebut sebagian mengimbangi percepatan rotasi yang dipicu perubahan pada inti Bumi. Tanpa pencairan es tersebut, perhitungan Agnew menunjukkan negative leap second mungkin diperlukan lebih awal, sekitar 2026.

Sistem leap second akan dihentikan

Kemungkinan munculnya negative leap second juga menjadi persoalan bagi sistem teknologi.

Pada 2022, General Conference on Weights and Measures memutuskan untuk menghentikan penggunaan leap second pada 2035. Pembahasan kemudian berlanjut mengenai pengganti sistem tersebut dengan penyesuaian waktu yang lebih besar tetapi dilakukan jauh lebih jarang.

Negative leap second menjadi perhatian khusus karena belum pernah terjadi. Sistem komputer selama ini tidak memiliki pengalaman menangani pengurangan satu detik sehingga tidak ada sejarah panjang pembaruan perangkat lunak untuk menghadapi kondisi tersebut.

Bumi tidak akan tiba-tiba berhenti

Seluruh perubahan tersebut mungkin terdengar dramatis, tetapi tidak berarti Bumi sedang menuju kondisi berhenti berputar.

Perubahan rotasi yang terjadi saat ini hanya berada pada skala milidetik dan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk inti Bumi, pasang surut, atmosfer, serta perpindahan massa air dan es.

Dalam skala geologis, Bumi memang telah mengalami perubahan besar. Panjang satu hari diperkirakan pernah jauh lebih pendek, mendekati enam jam tidak lama setelah Bulan terbentuk. Namun, perubahan tersebut berlangsung selama miliaran tahun.

Tidak ada mekanisme yang mampu menghilangkan momentum sudut Bumi secara tiba-tiba dalam skala waktu yang relevan bagi kehidupan manusia.

Jadi, Bumi memang terus berubah kecepatannya, tetapi Bumi tidak berada di ambang berhenti berputar. Justru rotasi yang berlangsung stabil itulah yang selama ini membuat kehidupan di planet ini berjalan seperti biasa tanpa kita sadari bahwa setiap saat kita sebenarnya sedang bergerak dengan kecepatan luar biasa. (*)

Sumber: Earth

TERKINI
Mengenal Keagungan Surah Al-Fatihah sebagai Induk Al-Qur`an Hadiri HUT ke-81 TNI, Puan Ingatkan Prajurit Tak Boleh Lupa Rakyat Agen AI Buatan AS dan China Terbukti Bisa Tipu Pengguna Komisi III Minta Polisi Transparan Usut Kasus Kekerasan Siswa SD Pemalang