Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat dan Terburuk Ketiga di Dunia Pagi Ini

Senin, 05/10/2026 08:49 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Senin (5/10/2026) pagi, kualitas udara Kota Jakarta masuk kategori tidak sehat dan terburuk ketiga di dunia.

Masyarakat pun diimbau agar tetap menjaga kesehatan dan memakai masker saat beraktivitas di luar rumah.

Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 08.41 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 175 atau masuk dalam kategori tidak sehat dengan polusi udara PM2.5 dan nilai konsentrasi 79 mikrogram per meter kubik.

Angka tersebut berarti dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

Sementara itu, kategori baik yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.

Kemudian, kategori sedang yakni kualitas udaranya yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.

Lalu, kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Terakhir, berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi.

Adapun, kota dengan kualitas udara terburuk di dunia adalah Delhi, India dengan indeks kualitas udara di angka 389. Kemudian di urutan kedua diikuti Dhaka, Bangladesh dengan indeks kualitas udara di angka 182.

Kemudian, di urutan keempat diikuti Kolkata, India di angka 168, dan di urutan kelima diikuti Lahore, Pakistan dengan indeks kualitas udara di angka 164.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mempersiapkan sistem peringatan dini kualitas udara atau Early Warning System (EWS) untuk memprediksi polusi udara lebih akurat.

Pengembangan EWS kualitas udara ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Pemprov DKI Jakarta dalam mengurangi dampak pencemaran udara dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, demikian dikutip Antara.

Keberadaan sistem peringatan dini ini akan memberikan manfaat besar terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap dampak pencemaran udara.

Kelompok tersebut antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma dan gangguan paru-paru lainnya.

Dengan adanya informasi prakiraan kualitas udara yang lebih akurat dan mudah diakses, masyarakat dapat mengambil berbagai langkah preventif saat kualitas udara diperkirakan memburuk.

Langkah tersebut antara lain menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, membatasi aktivitas fisik di area terbuka, dan mengurangi paparan terhadap polusi udara yang berpotensi membahayakan kesehatan.

TERKINI
Hari Arsitektur Sedunia Setiap 5 Oktober, Ini Sejarah dan Latar Belakangnya Hari Meningitis Sedunia 5 Oktober: Sejarah, Gejala, dan Cara Mencegahnya Intip Gaji Guru di 5 Negara Maju, Ada yang Tembus Rp2 Miliar per Tahun HUT ke-81 TNI, Prabowo Resmikan 6 Kodam dan Puluhan Satuan Baru