Sabtu, 26/09/2026 17:15 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Tehran tetap membuka jalan untuk menyelesaikan perselisihan dengan Amerika Serikat dan menginginkan perdamaian di kawasan.
Namun, menurut Pezeshkian, proses tersebut sulit berjalan tanpa pemulihan kepercayaan antara kedua negara.
Pezeshkian menyampaikan pernyataan itu dalam wawancara dengan CBS News pada Jumat saat tiba di New York untuk menghadiri Sidang ke-81 Majelis Umum PBB. Ia menekankan bahwa setiap kesepakatan yang dicapai harus dihormati kedua pihak dan Amerika Serikat perlu menunjukkan bahwa mereka tidak bermaksud menggulingkan pemerintahan Iran.
“Kita harus mematuhi apa yang telah kita tuliskan,” kata Pezeshkian. Ia juga mengatakan Amerika Serikat perlu membuktikan bahwa negara tersebut tidak berniat menggulingkan pemerintahan atau administrasi Iran.
Trump Tolak Tawaran Gencatan Senjata Iran, Serangan Baru Bisa Berlanjut
Pezeshkian Bantah Rumor Iran Produksi Senjata Nuklir
Iran Peringatkan Perang dengan AS Bisa Meluas hingga Samudra Hindia
Pezeshkian mengatakan persoalan kepercayaan menjadi salah satu hambatan utama dalam hubungan Tehran dan Washington. Menurut dia, sulit bagi Iran untuk mempercayai Amerika Serikat selama tekanan terhadap Tehran masih terus berlangsung.
“Selama mereka tidak berhenti melakukan apa yang mereka paksakan kepada kami setiap hari, sulit untuk mempercayai mereka,” ujar Pezeshkian.
Ia menyebut sanksi, ancaman, dan serangan sebagai sejumlah hal yang membuat Iran mempertanyakan keseriusan Washington dalam mencari penyelesaian melalui perundingan.
Pezeshkian juga mempertanyakan apakah Amerika Serikat benar-benar ingin menyelesaikan persoalan dengan Iran. Ia mengaitkan keraguan tersebut dengan serangan yang menurutnya terjadi ketika proses perundingan sedang berlangsung.
“Apakah menurut Anda Amerika Serikat benar-benar tertarik menyelesaikan masalah dengan kami? Lalu mengapa mereka membom kami di tengah perundingan?” kata Pezeshkian.
Ia juga menyinggung tewasnya pemimpin tertinggi Iran, ilmuwan, pejabat, dan warga Iran dalam konflik tersebut. Pezeshkian meminta masyarakat Amerika membayangkan situasi dari sudut pandang Iran.
“Bayangkan seseorang datang dan membunuh pemimpin tertinggi Anda. Kemudian tidak mematuhi semua yang telah Anda sepakati. Apa reaksi Anda?” ujarnya.
Menurut Pezeshkian, masalahnya bukan semata-mata membuka kembali meja perundingan, tetapi memastikan kesepakatan yang dicapai benar-benar dijalankan.
Ia mempertanyakan bagaimana Iran dapat memastikan Washington akan memenuhi kesepakatan baru jika menurutnya Amerika Serikat sebelumnya tidak menghormati hal-hal yang telah dituangkan secara tertulis.
“Jadi, jika mereka melakukan pembicaraan, apakah mereka benar-benar akan menindaklanjutinya?” kata Pezeshkian.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Tehran masih membuka kemungkinan penyelesaian diplomatik, tetapi mengaitkannya dengan adanya perubahan sikap dari Washington dan jaminan bahwa hasil perundingan akan dihormati.
Meski menyampaikan kritik keras terhadap Amerika Serikat, Pezeshkian tetap mengatakan dirinya berharap perdamaian dapat terwujud di kawasan.
Ia menyerukan agar Amerika Serikat menghentikan dukungannya kepada Israel. Pezeshkian juga menuduh Israel melakukan tindakan yang oleh Iran dianggap sebagai genosida serta menyerukan agar penyelesaian konflik didasarkan pada keadilan dan perlakuan yang adil.
Menurut dia, penyelesaian konflik tidak seharusnya dilakukan dengan memindahkan masyarakat dari rumah mereka atau dengan serangan yang menewaskan warga sipil. Ia secara khusus menyebut anak-anak, rumah sakit, dan ilmuwan sebagai pihak yang menurutnya menjadi sasaran.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika hubungan Iran dan Amerika Serikat masih berada dalam situasi tegang setelah konflik dan kebuntuan diplomatik antara kedua negara.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang menurut sumber tersebut menyebabkan ribuan orang tewas. Iran kemudian merespons dengan serangan terhadap Israel dan sejumlah lokasi Amerika Serikat di negara-negara lain di kawasan.
Amerika Serikat selanjutnya kembali melakukan serangan terhadap sejumlah fasilitas di Iran ketika perundingan Tehran-Washington mengalami kebuntuan, meskipun kedua pihak sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada pertengahan Juni.
Perundingan kemudian tersendat akibat perbedaan pandangan mengenai navigasi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur strategis utama bagi pasokan energi dan perdagangan dunia.
Persoalan tersebut menjadi bagian penting dalam hubungan Iran dan Amerika Serikat karena menyangkut keamanan jalur pelayaran sekaligus kepentingan ekonomi yang lebih luas. (*)
Sumber: Anadolu