Jum'at, 18/09/2026 13:30 WIB
San Francisco, Jurnas.com - Penggunaan model kecerdasan buatan terbuka (open-source AI) tanpa batasan pengaman dipicu memicu lonjakan kejahatan siber berbasis blockchain.
Firma analitik blockchain Chainalysis melaporkan adanya peningkatan insiden instruksi malware yang disisipkan ke dalam transaksi on-chain dan smart contract, hingga 440 persen dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.
Rata-rata kasus harian meningkat tajam dari dua kejadian menjadi 11 kasus per hari. Lonjakan ini bermula sejak pertengahan tahun 2025 seiring beredarnya model AI terbuka asal China yang dapat digunakan untuk pembuatan kode berbahaya tanpa pembatasan.
Para peretas memanfaatkan jaringan blockchain sebagai tempat menyimpan instruksi bagi perangkat lunak jahat, seperti alamat peladen command-and-control, melalui teknik yang dikenal sebagai blockchain dead drop.
"Ketika malware menggunakan blockchain untuk menyampaikan informasi kunci, upayanya untuk terhubung kembali dengan peretas menjadi jauh lebih sulit untuk diblokir secara efektif," ujar Vitaly Kamluk, pendiri konsultan keamanan siber TitanHex dikutip dari Bloomberg pada Jumat (18/9).
Laporan Chainalysis mengungkapkan bahwa mayoritas aktivitas peretasan ini didominasi oleh kelompok yang disokong oleh negara, termasuk yang terhubung dengan Korea Utara dan Iran. Jaringan blockchain menjadi sarana utama bagi kelompok-kelompok tersebut untuk menghindari pemeriksaan keamanan maupun kendala pembayaran peladen penyedia jasa.
Data dari TRM Labs menunjukkan bahwa kasus peretasan di industri kripto melonjak hingga 150 persen menjadi 207 kasus pada semester pertama tahun 2026. Meskipun blockchain tidak terlibat langsung dalam infeksi awal perangkat, sifat blockchain yang tidak dapat diubah membuat instruksi malware yang telah diunggah sulit untuk dihapus.
Di sisi lain, model AI open-source memberikan kendali penuh serta privasi bagi peretas karena mereka tidak perlu menyerahkan kode ke penyedia layanan awan yang mengawasi aktivitas penyalahgunaan.
Meski demikian, sifat transparan dari blockchain tetap memberikan keuntungan bagi penyidik keamanan siber. Setiap catatan aktivitas peretas terekam secara permanen di buku besar digital, sehingga memudahkan pemetaan infrastruktur serangan secara menyeluruh.