Kamis, 17/09/2026 13:36 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kekurangan suku cadang yang parah telah menurunkan kesiapan tempur pesawat pengebom B-52 milik Amerika Serikat (AS). Kondisi ini menyebabkan penumpukan pesawat di fasilitas perbaikan dan memaksa militer membongkar sejumlah pesawat operasional guna diambil suku cadangnya.
Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Komandan Komando Serangan Global Angkatan Udara AS, Jenderal Stephen Davis.
"Kami menemukan ada sekitar 17 pesawat pengebom yang mangkrak di sana, pada dasarnya karena tidak ada cukup suku cadang. Jadi mereka terus memasukkan pesawat agar bisa dikanibal suku cadangnya, sehingga mereka bisa mengeluarkan pesawat pengebom lainnya," kata Davis saat berbicara pada Konferensi Udara, Antariksa, dan Siber 2026.
"Kami memiliki dua hingga tiga pesawat yang terpaksa dikandangkan dalam jangka panjang di setiap sayap tempur. Akar masalahnya murni pada pasokan, kami tidak memiliki cukup suku cadang untuk para penerbang kami," ujarnya menambahkan.
Legislator PDIP Soroti WNI Gabung Militer Asing: Pemerintah Harus Belajar
Iran Kaji Penyerangan Aset Militer AS di Eropa
Militer Iran Serang Sejumlah Pangkalan AS di Kuwait
Davis menjelaskan bahwa komandonya menghadapi krisis kekurangan secara masif ini pada masa jabatan pendahulunya sekitar satu setengah tahun lalu. Situasi tersebut mendorong pihak militer meluncurkan program khusus guna menyelesaikan krisis.
Langkah itu membuahkan hasil. Selama 18 bulan terakhir, pasokan komponen telah meningkat sebesar 50 persen. Jumlah pesawat pengebom yang menganggur di fasilitas perbaikan kini berhasil ditekan menjadi 11 unit. Praktik kanibalisasi suku cadang dari pesawat operasional di pangkalan militer juga hampir sepenuhnya dihilangkan.
Berdasarkan data resmi Angkatan Udara AS, saat ini terdapat 76 unit pesawat pengebom strategis B-52 Stratofortress yang masih beroperasi. Dari total armada tersebut, sebanyak 58 unit ditugaskan pada unit tugas aktif, sementara 18 unit sisanya disiagakan sebagai cadangan.
Sumber: Sputnik