Trump Tolak Permintaan Pangeran Saudi Serang Houthi Yaman

Jum'at, 11/09/2026 13:40 WIB

Washington, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan menolak permintaan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman untuk meluncurkan serangan militer terhadap kelompok Houthi di Yaman.

Laporan Axios yang mengutip dua pejabat Amerika Serikat menyebutkan bahwa permintaan tersebut disampaikan melalui dua kali sambungan telepon pada Kamis (10/9/2026).

Pemerintah AS menegaskan tidak berniat mengambil tindakan militer langsung terhadap Houthi saat ini, meskipun kekhawatiran atas eskalasi konflik di Yaman semakin meningkat, sebagaimana dikutip dari Reuters pada Jumat (11/9).

Washington memilih untuk meningkatkan dukungan bagi Saudi tanpa harus terlibat secara langsung dalam konfrontasi militer baru. Komandan Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, langsung bertolak ke Arab Saudi pada Kamis untuk melakukan pembicaraan koordinasi darurat.

Para pejabat militer dan sipil Amerika Serikat menyatakan bahwa instruksi utama dari Donald Trump adalah menjaga fokus pasukan militer AS pada penanganan konflik dengan Iran serta mengamankan pelayaran di Selat Hormuz, sembari menghindari pembukaan front militer baru di kawasan.

Penolakan AS ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan yang telah berkobar sejak awal Juli, ketika kelompok Houthi mengklaim mengadang pesawat tempur Arab Saudi yang mencoba menghalangi pendaratan pesawat sipil Iran di Bandara Internasional Sanaa.

Arab Saudi sebelumnya dikabarkan tengah berupaya membangun koalisi internasional guna melindungi jalur pelayaran di Laut Merah dari potensi serangan Houthi.

Pihak Gedung Putih dan Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan pembicaraan telepon antar-pemimpin negara tersebut.

TERKINI
Sederet Hewan Laut Ini Kurang Dilirik meski Kaya Nutrisi Kumpulan Doa Singkat Memohon Perlindungan dan Keselamatan Gajah Asia Mampu Menahan Diri dan Mengubah Strategi Saat Menghadapi Masalah Studi: Keluarga Miskin Habiskan Setengah Gaji untuk Makan pada 2050