Jum'at, 28/08/2026 14:42 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Banjir bandang dan longsor yang menerjang Nepal dan wilayah Tibet, China, menewaskan sedikitnya 478 orang. Lebih dari 1.200 orang masih dinyatakan hilang, dengan sebagian besar di antaranya merupakan warga negara asing.
Kepolisian Nepal melaporkan 475 orang meninggal dunia akibat banjir yang menerjang sejumlah wilayah pada Rabu. Sementara itu, China mengonfirmasi tiga korban jiwa di wilayah Xizang atau Tibet, sehingga total korban dari kedua negara mencapai 478 orang.
Bencana terjadi di wilayah utara dan tengah Nepal. Arus deras di sepanjang Sungai Bhotekoshi dan Trishuli menyapu permukiman, kendaraan, material bangunan hingga manusia ke wilayah hilir.
Skala bencana membuat proses pencarian semakin sulit. Sejumlah jalan dan jembatan rusak atau hanyut sehingga beberapa komunitas dan kawasan yang dilalui wisatawan terputus dari akses utama.
10 Ribu Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal Imbas Banjir Bandang Nepal
Korban Tewas Banjir Bandang Nepal Naik Jadi 389 Orang
Banjir Bandang Nepal-Tibet, 900 Wisatawan Asing Hilang
Data yang disampaikan Nepal dan China menunjukkan sedikitnya 1.281 orang masih belum ditemukan, termasuk sekitar 856 warga negara asing.
Kementerian Luar Negeri Nepal mencatat 596 orang dari 33 negara masih hilang. Dewan Pariwisata Nepal juga melaporkan 127 warga Nepal belum diketahui keberadaannya.
Di wilayah Tibet, pemerintah China melaporkan 558 orang masih hilang, termasuk 260 warga negara asing.
Dengan demikian, jumlah orang hilang dari kedua negara mencapai 1.281 orang. Angka tersebut masih dapat berubah karena proses verifikasi dan pencocokan data korban terus dilakukan.
Warga negara India menjadi kelompok warga asing yang paling banyak dilaporkan hilang. Sedikitnya 288 warga India belum ditemukan, termasuk 73 orang yang bekerja di proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Trishuli-1.
Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung dengan melibatkan Tentara Nepal, Kepolisian Nepal, dan Armed Police Force.
Helikopter digunakan untuk menjangkau daerah yang terisolasi sekaligus mengevakuasi warga yang masih terjebak. Tim di darat juga menyisir tepian sungai dan wilayah permukiman yang berada di sepanjang aliran sungai.
Dewan Pariwisata Nepal masih melakukan verifikasi terhadap wisatawan dan pelancong yang berada di atau melintasi wilayah Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading ketika banjir terjadi.
Kawasan tersebut merupakan jalur yang dilalui wisatawan menuju sejumlah destinasi, sehingga pencarian warga asing menjadi salah satu fokus dalam operasi kemanusiaan.
Pemerintah Nepal mulai melakukan penilaian terhadap kerusakan yang ditimbulkan bencana. Namun, proses tersebut menghadapi kendala karena kerusakan infrastruktur membuat sejumlah wilayah sulit dijangkau.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal Lok B. Chhetri mengatakan aparat keamanan saat ini menangani situasi di lapangan.
“Badan keamanan kami saat ini menangani situasi secara efektif,” kata Chhetri dalam pernyataan tertulis, Jumat (28/8) dikutip Anadolu.
Mengenai kemungkinan permintaan bantuan internasional, Chhetri mengatakan bantuan dapat diminta untuk kebutuhan atau layanan tertentu apabila diperlukan selama operasi berlangsung.
Ia menambahkan, pemerintah masih melakukan penilaian terhadap dampak bencana sebelum menentukan kebutuhan bantuan secara lebih spesifik.
“Mengingat kerusakan besar pada infrastruktur penting, penilaian sedang dilakukan dan bantuan yang dibutuhkan akan diminta sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Banjir dan longsor menghantam rumah, jalan, jembatan serta berbagai fasilitas lainnya. Kerusakan tersebut membuat sejumlah wilayah terdampak terisolasi dan menyulitkan akses tim penyelamat.
Kondisi ini juga berdampak langsung terhadap pencarian orang hilang. Selain harus menyisir sungai dan kawasan hilir, tim penyelamat harus mencapai wilayah yang akses daratnya terganggu.
Di Tibet, ratusan penduduk, pekerja konstruksi dan wisatawan yang berada di wilayah terdampak Gyirong County telah dievakuasi dan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Sementara itu, pencarian korban dan proses evakuasi masih terus dilakukan di kedua sisi perbatasan. (*)
Sumber: Anadolu