Jum'at, 28/08/2026 13:18 WIB
JAKARTA, Jurnas.com - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia saat ini berdampak serius bagi operasional penerbangan serta bagi penumpang pesawat.
Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional (INACA) berharap penanganan Karhutla di seluruh wilayah Indonesia bisa dipercepat sehingga dampaknya bisa diminimalisir.
“Penanganan ini perlu dipercepat dengan kerjasama semua pihak agar tidak berdampak pada konektivitas angkutan udara dan perekonomian nasional,” ujar Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja melalui keterangannya, Jumat (28/8/2026).
Denon menjelaskan, dampak karhutla pada penerbangan antara lain terjadinya penurunan jarak pandang (visibility) akibat kabut asap, terutama di seputar bandara sehingga pesawat harus holding, terlambat terbang (delay), mengalihkan penerbangan dan membatalkan penerbangan untuk menunggu kabut asap hilang/
Masuki Era "Green Jobs", Ini Modal yang Wajib Disiapkan Mahasiswa
10 Ribu Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal Imbas Banjir Bandang Nepal
Banjir Nepal Tewaskan 478 Orang, Lebih dari 1.200 Masih Hilang
Kabut asap juga membuat petugas ATC menambah jarak pemisahan (separation distance) antarpesawat, terutama saat akan take off dan landing.
Selanjutnya risiko keselamatan penerbangan karena partikulat asap, jelutong, dan abu berpotensi mengotori filter udara turbin mesin pesawat, menyumbat tabung pitot-static yang sensitif, serta mempercepat keausan komponen internal mesin jika terhirup terus-menerus.
Kemudian, jika penerbangan di satu bandara terlambat (delay) karena terdampak karhutla, bisa menyebabkan keterlambatan di bandara-bandara lainnya karena adanya efek berantai operasional penerbangan.
“Dampak operasional ini akan mengakibatkan biaya operasional maskapai penerbangan juga meningkat, seperti misalnya tambahan biaya tambahan bahan bakar akibat pesawat yang holding sebelum mendarat, biaya kompensasi keterlambatan penumpang, refund tiket, gangguan perputaran rotasi pesawat dan kru penerbangan (flight crew scheduling), serta dampak-dampak lainnya,” jelas Denon.
Selain berdampak pada operasional penerbangan, lanjut Denon, karhutla juga akan berdampak pada penumpang.
“Asap yang pekat tentu akan mengganggu kesehatan penumpang, terutama saat menuju, di dalam dan saat ke luar bandara. Penumpang juga akan terganggu kepentingannya kalau terjadi keterlambatan penerbangan,” katanya.
Sementara itu Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto, karhutla selama bulan Agustus 2026 ini telah berdampak kepada terganggunya penerbangan di Bandara Supadio Pontianak dan Singkawang, Kalimantan Barat akibat jarak pandang dibawah 1.000m sehingga mengakibatkan lebih dari 21 keterlambatan penerbangan, pengalihan penerbangan dan pembatalan penerbangan.
Ppenerbangan di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah juga terganggu sehingga menyebabkan sejumlah keterlambatan penerbangan.
Bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru Kalimantan Selatan terjadi keterlambatan akibat jarak pandang yang turun hingga hanya 200m.
Kemudian terjadi holding dan pengalihan penerbangan ke Bandara Sultan Thaha Saifuddin, Jambi akibat kabut asap yang menyebabkan jarak pandang turun hingga hanya 800m.
“Juga terganggunya penerbangan di sekitar Bandara Douw Aturure Nabire, Papua Tengah yang mengakibatkan keterlambatan sejumlah penerbangan,” kata Bayu.