Jum'at, 28/08/2026 10:01 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Hampir 900 wisatawan asing dilaporkan masih belum diketahui keberadaannya setelah banjir bandang dan tanah longsor menerjang kawasan Himalaya di perbatasan Nepal dan Tibet, China.
Bencana tersebut menyebabkan sedikitnya 180 orang meninggal dunia dan memicu operasi pencarian besar-besaran di sejumlah wilayah yang terdampak.
Badan Pariwisata Nepal mencatat sebanyak 644 wisatawan, baik warga asing maupun lokal, masih dinyatakan hilang di wilayah Nepal.
Dari jumlah tersebut, warga negara India menjadi kelompok terbesar dengan 178 orang. Selanjutnya terdapat 65 warga Amerika Serikat, 53 warga Ukraina, 51 warga Malaysia, 35 warga Australia, dan 33 warga Inggris.
10 Ribu Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal Imbas Banjir Bandang Nepal
Banjir Nepal Tewaskan 478 Orang, Lebih dari 1.200 Masih Hilang
Korban Tewas Banjir Bandang Nepal Naik Jadi 389 Orang
Selain itu, sebanyak 25 warga Kanada, sembilan warga Singapura, serta delapan warga Jerman juga belum ditemukan.
Sejumlah wisatawan dari Prancis, Hungaria, Swiss, Italia, Irlandia, Israel, Jepang, Kazakhstan, Portugal, dan Rusia turut masuk dalam daftar orang hilang.
Badan Pariwisata Nepal juga melaporkan 127 warga Nepal belum diketahui keberadaannya setelah bencana melanda kawasan tersebut.
Di sisi lain, pemerintah China turut melaporkan warga negaranya yang terdampak bencana di wilayah Nepal.
Kementerian Luar Negeri China menyebut sekitar 100 warga negara China masih hilang akibat banjir bandang yang terjadi di kawasan perbatasan tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, juga mengatakan terdapat 260 warga negara asing yang masih belum diketahui keberadaannya di wilayah Tibet, yang secara resmi disebut Beijing sebagai Daerah Otonomi Xizang.
Jumlah warga China yang dilaporkan hilang di Nepal tidak termasuk dalam data yang sebelumnya dirilis oleh otoritas Nepal.
Dengan demikian, jumlah orang asing yang masih hilang di kedua wilayah tersebut mencapai ratusan orang dan menjadi salah satu fokus utama operasi pencarian dan penyelamatan.
Berdasarkan analisis citra satelit, banjir besar tersebut diduga berkaitan dengan pecahnya bongkahan es berukuran besar dari gletser di kawasan Himalaya.
Lokasi yang diduga menjadi sumber bencana berada sekitar 20 kilometer di sebelah timur laut jalur perlintasan perbatasan Rasuwa-Rasuwagadhi.
Otoritas Nepal mencatat sedikitnya 177 orang meninggal dunia dan 826 lainnya masih dinyatakan hilang akibat rangkaian bencana tersebut.
Sementara itu, pemerintah China melaporkan tiga orang meninggal dunia dan 558 orang masih belum ditemukan, termasuk sejumlah warga negara asing.
Besarnya jumlah korban dan orang hilang membuat proses pencarian menghadapi tantangan besar, terutama karena medan pegunungan, kerusakan akses, serta kondisi wilayah yang terdampak banjir dan tanah longsor. (Anadolu)