Minggu, 23/08/2026 21:20 WIB
Teheran, Jurnas.com - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menepis ancaman sanksi baru dari Amerika Serikat, dan menyebutnya sebagai bentuk frustrasi Washington. Dia menegaskan bahwa sanksi tersebut tidak akan mampu menundukkan Teheran.
Pernyataan ini muncul menjelang rencana pengumuman dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang dijadwalkan menyampaikan sanksi finansial terbesar dalam sejarah terhadap Iran.
Perekonomian Iran saat ini berada dalam tekanan berat akibat sanksi internasional dan kerusakan infrastruktur, di samping ribuan korban jiwa akibat serangan udara sejak AS dan Israel memulai aksi militer pada 28 Februari lalu.
Meski demikian, Teheran tetap menunjukkan sikap menantang seiring perang yang memasuki bulan keenam. Iran memblokir secara efektif lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dengan menolak melintasnya kapal yang tidak berizin.
Watkins Dicoret Villa usai Merengek Ingin ke Saudi
Atasi Karhutla Kalimantan, BNPB Kerahkan 30 Helikopter-Kembali Gelar OMC
Wamentrans Dorong Malut Cetak Sawah Baru, Maksimalkan Lahan Transmigrasi
Jalur ini sangat krusial bagi pasokan minyak global, sehingga tindakan Iran tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia.
Dalam video yang diunggah di platform Telegram, Araqchi menilai langkah AS tersebut sebagai skenario berulang.
"Kenyataan bahwa mereka (pemimpin AS) beralih dari operasi militer kembali menyuarakan rencana-rencana lama menunjukkan bahwa mereka berada dalam posisi frustrasi," ujar Araqchi dikutip dari AFP pada Minggu (23/8).
Dia menambahkan bahwa Washington harus berbicara dengan rasa hormat jika ingin menemukan solusi yang berlandaskan keadilan dan kehormatan.
"Kami tidak pernah takut. Seluruh tindakan mereka, baik blokade maupun langkah militer lainnya, telah gagal, dan isu baru mereka ini juga akan gagal," tegas Araqchi.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan konsekuensi ekonomi bagi negara manapun yang memberikan bantuan kepada Iran.
Bessent juga mendesak China untuk bekerja sama dengan Washington. Berdasarkan data Kpler 2025, Tiongkok membeli lebih dari 80 persen minyak jalur laut Iran. Menanggapi situasi ini, China mengimbau agar kedua pihak mengedepankan jalur diplomasi.