Sabtu, 22/08/2026 06:02 WIB
Jakarta, Jurnas.com - NLR Indonesia resmi meluncurkan Program BodyTalk 2.0 dengan mengusung tema `Growing Forward: Suara Remaja, Hak atas Tubuh, Perubahan yang Berkelanjutan`, pada Kamis (20/8) lalu.
Program yang bertujuan memperkuat pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR) ini menyasar para remaja dengan disabilitas dan remaja yang pernah mengalami kusta.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan dalam sambutannya menekankan pentingnya investasi pada generasi muda, termasuk remaja disabilitas, guna membangun sumber daya manusia yang unggul.
"Saya memegang teguh Asta Cita keempat karena ujung tombak kita adalah SDM, anak muda, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda dan penyandang disabilitas," kata Wamen Veronica.
Kemnaker Perkuat Pelatihan dan Penempatan Kerja bagi Penyandang Disabilitas
Atasi Kesenjangan Kesempatan Kerja bagi Disabilitas dengan Langkah Nyata
Menaker: Penyandang Disabilitas Harus Mendapat Kesempatan Kerja yang Setara
Menurut dia, saat ini masih banyak persoalan mengenai anak khususnya disabilitas, sehingga membutuhkan kolaborasi multipihak, untuk menyediakan layanan satu pintu bagi perempuan, anak, dan penyandang disabilitas.
Adapun terkait Program BodyTalk 2.0 NLR Indonesia, lanjut Wamen Veronica, akan memberikan kompetensi dan edukasi mengenai HKSR. Dengan pengetahuan tersebut, remaja lebih memahami hak dan mengenal risiko dalam mengambil keputusan, serta mencari pertolongan ketika mengalami kekerasan.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pembina Yayasan NLR Indonesia, Rahmawati Retno Winarni, kembali menekankan komitmen NLR Indonesia bahwa setiap remaja dengan disabilitas dan yang pernah mengalami kusta berhak untuk tumbuh sehat, aman, dan bermartabat.
"Melalui Program Body Talk 2.0, kita memperbaharui apa yang telah dicapai pada Body Talk 1.0 sebelumnya. Kita ingin memastikan remaja dengan disabilitas dan kusta memperoleh layanan hak kesehatan termasuk kesehatan reproduksi yang inklusif. Mereka terlindungi dari kekerasan dan memiliki ruang untuk bersuara," ujar Rahmawati
Salah satu Youth Champion dari Program Body Talk 1.0, Wilhelmina Ice mengungkapkan pengalaman sebelum mengikuti program Body Talk 1.0. Dia merasa malu dan sulit bertanya kepada siapapun terkait tubuhnya atau menstruasi.
"Hal-hal itu masih dianggap tabu. Saya takut salah bicara dan takut dimarahin karena menanyakan sesuatu yg belum pantas dibiarakan," ujar Ice.
Namun setelah Body Talk 1.0, Ice mengaku mengalami banya perubahan. Dia belajar tentang kesehatan reproduksi melalui diskusi, contoh dan berbagi pengalaman dengan teman sebaya. Suasana pelatihan lebih interaktif, terbuka dan tanpa merasa takut dihakimi. Materi ajar pun mudah dipahami lewat ilustrasi dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Program Body Talk 2.0 merupakan kelanjutan dari Body Talk 1.0 yang telah memberi manfaat kepada 534 remaja dengan disabilitas, melahirkan 18 youth champion, dan melatih 143 orang tua/pengasuh dan sejumlah lembaga/sekolah di empat kabupaten/kota.
Program ini menyasar hampir 500 remaja di Banyuwani, Situbondo, Palu dan Kupang selama 2026 hingga 2028. Program tersebut juga akan melibatkan orang muda dengan disabilitas dan yang pernah mengalami kusta sebagai aktor utama, bersama orang tua/pengasuh, sekolah, tenaga kesehatan dan penyedia layanan, organisasi penyandang disabilitas dan organisasi masyarakat sipil, serta pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait di tingkat nasional.