Kemenbud Dorong Aransemen Ulang Lagu Hari Merdeka untuk Generasi Muda

Jum'at, 21/08/2026 22:25 WIB

Jakarta, Jurnas.com- Kementerian Kebudayaan mendorong lagu-lagu kebangsaan dan lagu perjuangan kembali dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda, melalui aransemen ulang dan kolaborasi musisi lintas generasi. Langkah awal dilakukan dengan menghadirkan aransemen baru lagu “Hari Merdeka” karya Husein Mutahar yang diciptakan pada 1946.

Aransemen lagu tersebut digarap Erwin Gutawa dan melibatkan sejumlah maestro serta penyanyi lintas generasi, yakni Ahmad Albar, Ardhito Pramono, Harvey Malaihollo, Judika, Novia Bachmid, Rita Butar Butar, Ruth Sahanaya, Shabrina Leanor, Titik Hamzah, dan Vina Panduwinata.

Penggarapan aransemen baru tersebut tidak hanya menghadirkan warna musikal berbeda, tetapi juga menjadi upaya menerjemahkan kembali semangat perjuangan ke dalam konteks pendengar masa kini. Tantangannya adalah menjaga ruh, nilai sejarah, dan pesan yang melekat pada lagu, sekaligus membuatnya tetap relevan bagi generasi sekarang.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan lagu-lagu kebangsaan dan perjuangan perlu dibuat semakin relevan, disukai, dan digunakan masyarakat. Aransemen ulang “Hari Merdeka” diharapkan menjadi langkah awal Kementerian Kebudayaan, khususnya Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, untuk kembali mempopulerkan lagu-lagu nasional Indonesia yang kaya makna, nilai historis, sekaligus memiliki kualitas musikal yang kuat.

“Saat ini Indonesia memerlukan lagu-lagu kebangsaan yang semakin relevan, semakin disukai, semakin digunakan," ujar Fadli Zon, Jumat (21/8/2026).

Menurut Fadli, masyarakat kini memiliki banyak pilihan musik, mulai dari lagu nasional, lagu Indonesia, hingga musik pop. Ia menyebut sekitar 80 persen masyarakat Indonesia memilih mendengarkan musik atau lagu Indonesia.
Namun, menurut dia, lagu perjuangan tetap membutuhkan afirmasi agar keberadaannya kuat di tengah perkembangan musik dan perubahan selera masyarakat.

Fadli juga menilai generasi muda, termasuk milenial dan Gen Z, perlu diperkenalkan kembali dengan lagu-lagu nasional dan perjuangan. Lagu-lagu tersebut, kata dia, bukan hanya memiliki nilai musikal, tetapi juga menyimpan cerita mengenai perjalanan bangsa dan tokoh-tokoh yang berjuang pada masanya.

“Lagu Hari Merdeka mungkin permulaan. Jadi lagu Syukur, Dari Sabang Sampai Merauke, dan yang lain-lain, kalau dinyanyikan oleh maestro-maestro lintas generasi, pasti akan menarik,” ujar Fadli.

Ia berharap langkah tersebut dapat dilanjutkan dengan penciptaan lagu-lagu nasional baru yang membawa semangat nasionalisme dan patriotisme.

“Jadi bukan hanya (lagu) ini. Kita berharap nanti Kementerian Kebudayaan mengadakan penciptaan lagu-lagu nasional, lagu-lagu yang berbau nasionalisme dan patriotisme baru,” katanya.

Kolaborasi lintas generasi diharapkan memberikan daya tarik baru bagi lagu-lagu perjuangan sekaligus mempertemukan pengalaman musikal dari berbagai generasi. Video aransemen baru “Hari Merdeka” telah diluncurkan perdana di TVRI dan dapat disaksikan masyarakat melalui kanal YouTube Kementerian Kebudayaan.

Erwin Gutawa selaku arranger mengatakan lagu bertema nasionalisme, khususnya lagu perjuangan, semestinya memiliki tempat istimewa karena mengandung nilai sejarah.

“Dengan aransemen baru ‘Hari Merdeka’ dan kolaborasi dengan penyanyi lintas generasi ini, saya berharap bisa menjadi pengingat sekaligus penyemangat akan makna-makna perjuangan dan kemerdekaan, serta menyentuh seluruh lapisan generasi di masa kini,” ujar Erwin

TERKINI
Barcelona Amankan Kiper Muda Fenerbahce, Tapi Baru Gabung 2027 Mourinho Ungkap Alasan Vinicius Tolak Arsenal Jelang Lawan Espanyol, Mourinho Bawa 6 Pemain Barunya Keterangan Ahli Polri Dinilai Perkuat Gugatan Praperadilan Febrie