Kamis, 20/08/2026 14:40 WIB
Los Angeles, Jurnas.com - YouTube dikabarkan telah menyiapkan dana hingga jutaan dolar AS kepada sejumlah saluran populer agar mengunggah video secara eksklusif di platformnya selama periode tertentu. Langkah ini diambil guna menahan laju ekspansi Netflix Inc yang gencar menggaet para bintang terbesar di platform video milik Google tersebut.
Berdasarkan laporan dari sumber yang mengetahui negosiasi tersebut, penawaran dana dari YouTube hadir dalam beberapa bentuk. YouTube telah mendiskusikan pembiayaan langsung untuk sejumlah program acara, serta menawarkan alokasi porsi dari kesepakatan merek-merek besar kepada para kreator.
Meskipun belum memfinalisasi kesepakatan, YouTube dilaporkan hampir mencapai kesepakatan dengan beberapa mitra, sebagaimana laporan Bloomberg pada Kamis (20/8).
YouTube juga memberikan konsekuensi bagi kreator yang menandatangani kesepakatan dengan Netflix. Dikatakan, kecil kemungkinan bagi para kreator tersebut untuk ditampilkan dalam kampanye pemasaran atau acara resmi jika mereka merilis video di Netflix pada waktu yang bersamaan. Selain itu, YouTube juga akan mengabaikan mereka dari pembagian hasil kampanye merek-merek utama.
Diketahui, Netflix secara agresif mengejar kesepakatan dengan puluhan kreator YouTube ternama, seperti Alan Chikin Chow dan Nick DiGiovanni, untuk memublikasikan konten mereka secara bersamaan di YouTube dan Netflix. Netflix juga tengah menjajaki komunikasi aktif dengan saluran dan program populer lainnya, seperti acara wicara selebritas Hot Ones.
Bagi para kreator, penawaran Netflix dinilai sangat menarik karena memberikan penghasilan tambahan hingga jutaan dolar untuk video yang sedang mereka produksi, sekaligus memperluas jangkauan pemirsa ke lebih dari 325 juta pelanggan Netflix.
Namun, YouTube memberi tahu para kreator bahwa penayangan ganda (cross-posting) di YouTube dan Netflix dapat merusak jumlah penonton di YouTube, sekaligus memberikan persepsi bahwa para kreator mulai mengesampingkan YouTube sebagai saluran distribusi utama mereka.
Meski demikian, beberapa kreator memilih untuk tidak bekerja sama dengan Netflix. Persyaratan Netflix yang mewajibkan penyerahan video beberapa hari sebelum tayang dinilai tidak fleksibel bagi pola kerja sebagian kreator. Selain itu, Netflix juga meminta kreator menghapus sejumlah sponsor merek tertentu dari video mereka.
Persaingan antara YouTube dan Netflix kian memanas setelah bertahun-tahun beroperasi di ranah yang berbeda. Netflix sebelumnya berfokus pada film dan serial bergaya Hollywood berbasis langganan, sementara YouTube menjadi pemimpin konten buatan pengguna.
Dalam beberapa tahun terakhir, batasan antara kedua platform semakin kabur. YouTube mulai memprioritaskan penayangan di perangkat televisi dan berhasil meraih pangsa pemirsa terbesar di layar TV, memperebutkan kue iklan televisi, hingga mengambil hak siar acara besar seperti Academy Awards dan National Football League (NFL).
Sementara itu, Netflix mulai melisensi acara populer berbasis YouTube seperti CoComelon dan Ms. Rachel untuk menarik minat penonton berusia muda serta meningkatkan waktu interaksi pengguna di platformnya.
Chief Executive Officer (CEO) YouTube, Neal Mohan, beserta timnya menilai bahwa tren penayangan konten secara bersamaan di YouTube dan Netflix merupakan ancaman yang harus ditangani.
Keberadaan video yang sama di platform Netflix dinilai menyulitkan YouTube dalam menjual nilai eksklusivitas ruang iklan kepada para pengiklan.